Terbang untuk Belajar di Wakatobi: Tekad Nelayan Pulau Langkai dan Lanjukang Menjaga Gurita

MAKASSAR — Lima nelayan dari Pulau Langkai dan Pulau Lanjukang berangkat dari Kota Makassar menuju Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, pada 8–13 November 2021. Ada rasa bahagia dan waswas dalam perjalanan itu. Namun yang lebih kuat dari semuanya adalah tekad untuk belajar.

Bagi sebagian dari mereka, ini adalah pengalaman pertama naik pesawat. Namun kisah ini bukan tentang pengalaman terbang, melainkan tentang kegelisahan yang mereka bawa dari pulau: ukuran gurita makin kecil, hasil tangkapan tidak menentu, dan tekanan terhadap terumbu karang kian terasa.

Di Pulau Langkai dan Pulau Lanjukang, gurita adalah komoditas penting. Harganya relatif stabil dan menjadi sumber penghasilan harian bagi banyak keluarga. Penangkapannya pun dikenal lebih ramah lingkungan dibanding metode destruktif lain. Tetapi tanpa pengaturan, sumber daya tetap bisa menurun. Ketika terlalu banyak yang ditangkap tanpa memberi waktu tumbuh, siklus alam terganggu.

Itulah sebabnya lima nelayan ini memutuskan belajar ke Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi. Kunjungan ini difasilitasi oleh Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia melalui Program Proteksi Gama, dengan dukungan Burung Indonesia dan Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF). Di lapangan, mereka berdiskusi dengan Forum Kahedupa Toudani (Forkani), yang mendampingi masyarakat Desa Derawa menerapkan sistem buka-tutup penangkapan gurita.

Ketika Hasil Menurun, Diskusi Dimulai

Di Desa Derawa, cerita perubahan bermula dari situasi yang tidak jauh berbeda dengan yang dirasakan nelayan Spermonde. Beberapa tahun sebelumnya, nelayan setempat mengeluhkan gurita besar semakin sulit ditemukan. Hasil tangkapan didominasi ukuran kecil. Pendapatan berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tidak menunggu.

Alih-alih menambah intensitas tangkap, masyarakat Derawa memilih berdiskusi. Tokoh adat, nelayan, dan warga duduk bersama membahas kondisi laut mereka. Dari pertemuan itu lahir satu kesepakatan: sebagian wilayah tangkap akan ditutup sementara waktu. Setelah periode tertentu, kawasan itu dibuka kembali secara bersama-sama.

Langkah itu tidak mudah. Ada kekhawatiran kehilangan pendapatan dalam jangka pendek. Namun masyarakat sepakat bahwa tanpa jeda, gurita tidak akan sempat tumbuh.

Sudarmin, nelayan dari Pulau Langkai, mengaku terkejut melihat hasilnya. “Dulu di sini lebih banyak yang kecil-kecil. Setelah ada buka-tutup, yang ditangkap sudah besar-besar. Karangnya juga kelihatan lebih bagus,” ujarnya.

Baginya, yang menarik bukan hanya perubahan ukuran gurita, tetapi bagaimana masyarakat mematuhi aturan yang mereka buat sendiri. “Pendekatan adat di sini kuat. Jadi orang segan melanggar,” kata dia.

Lebih dari Sekadar Tutup dan Buka

Selama di Kaledupa, rombongan nelayan tidak hanya melihat lokasi penutupan. Mereka belajar tentang proses sosial di baliknya. Bagaimana membangun kesadaran, bagaimana menyusun aturan, siapa yang mengawasi, dan bagaimana sanksi disepakati.

Erwin RH dari Langkai menilai keberhasilan di Derawa tidak hanya soal ekologi. “Ternyata kalau nelayan sendiri sadar, hasilnya bisa kita rasakan bersama. Bukan cuma pencari gurita, tapi yang lain juga, termasuk perempuan yang bantu ekonomi keluarga,” katanya.

Ia melihat bahwa perubahan terjadi karena masyarakat merasa memiliki aturan tersebut. Peran tokoh adat dan lembaga lokal memang penting, tetapi kunci utamanya adalah kesadaran kolektif. “Semua itu terjadi karena nelayan mau berubah.”

Anas dari Pulau Lanjukang juga mengungkapkan kesannya saat melihat langsung hasil tangkapan di Derawa. “Ada yang 2 kilo, 3 kilo sampai 5 kilo. Mereka mau buka-tutup karena sebelumnya pendapatan berkurang dan kebanyakan yang kecil. Jadi mereka sepakat coba cara ini.”

Bagi Anas, ukuran tersebut menjadi bukti bahwa memberi waktu bagi laut untuk pulih dapat berdampak langsung pada pendapatan.

Tantangan dan Realitas

Meski terlihat berhasil, sistem buka-tutup bukan tanpa tantangan. Para nelayan dari Langkai dan Lanjukang juga mendiskusikan kemungkinan resistensi di kampung mereka sendiri. Tidak semua orang mudah menerima pembatasan, terutama jika menyangkut penghasilan harian.

Syarif dari Lanjukang menyadari pentingnya dukungan kelembagaan dan pemerintah. “Kami ingin ada perubahan di pulau kami. Tapi perlu dukungan supaya bisa jalan,” katanya.

Menurutnya, jika aturan hanya disepakati sebagian orang, risiko pelanggaran akan tinggi. Dukungan regulasi dan pendampingan akan membantu memperkuat kesepakatan masyarakat.

Sementara itu, Amiruddin dari Langkai melihat pembelajaran ini sebagai langkah awal yang penting. “Kalau kita atur sama-sama, gurita bisa dinikmati anak cucu. Jangan sampai habis di kita saja,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa tujuan utama bukan hanya peningkatan pendapatan sesaat, tetapi keberlanjutan jangka panjang.

Membawa Pulang Gagasan, Bukan Menyalin Mentah

Perjalanan pada 7–12 November 2021 itu berlangsung enam hari. Waktu yang singkat untuk menyerap banyak pengalaman. Namun bagi lima nelayan tersebut, kunjungan ini membuka perspektif baru. Laut bukan hanya ruang tangkap, tetapi ruang kelola bersama.

Mereka menyadari bahwa model Derawa tidak bisa dipindahkan begitu saja ke Langkai dan Lanjukang. Kondisi sosial, budaya, dan ekologis berbeda. Tetapi prinsip dasarnya relevan. Ketika masyarakat sepakat mengatur sumber dayanya sendiri, peluang keberlanjutan menjadi lebih besar.

Sepulang dari Wakatobi, mereka tidak membawa aturan jadi atau dokumen resmi. Mereka membawa cerita, contoh nyata, dan keyakinan bahwa perubahan mungkin dilakukan.

Bagi nelayan Langkai dan Lanjukang, menjaga gurita bukan berarti berhenti melaut. Menutup sementara bukan berarti kehilangan selamanya. Justru dengan memberi waktu bagi laut untuk pulih, hasil tangkapan bisa lebih besar dan lebih stabil.

“Kami ingin masyarakat di pulau kami bisa mengerti dan mau mencoba,” kata Amiruddin.

Perjalanan mereka mungkin dimulai dengan rasa waswas di bandara. Namun ia berakhir dengan refleksi yang lebih dalam. Keberlanjutan tidak datang dari luar, melainkan dari kesepakatan dan komitmen masyarakat sendiri.

Lima orang mungkin terlihat kecil dalam skala perubahan. Tetapi jika gagasan yang mereka bawa mampu memicu dialog di pulau, melibatkan tokoh adat, perempuan, dan pemerintah setempat, maka langkah kecil itu bisa menjadi awal perubahan besar.

Di tengah tekanan terhadap ekosistem pesisir dan laut, pengalaman belajar lintas pulau ini menjadi pengingat sederhana. Menjaga laut adalah investasi jangka panjang. Dan kadang, keberanian untuk belajar adalah langkah pertama menuju laut yang tetap produktif bagi generasi berikutnya.

Berita Terkait

Scroll to top