Penulis : Alief Fachrul Raazy
Program Manajer YKL Indonesia
Seluruh spesies penyu memiliki siklus hidup yang sama. Mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan sekitar 20 sampai 50 tahun tahun untuk mencapai usia reproduksi. Saat dewasa hidup bertahun-tahun di satu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan menempuh jarak yang jauh hingga 3000 km.
Penyu betina menyimpan sperma penyu jantan di dalam tubuhnya untuk membuahi tiga hingga tujuh kumpulan telur (nantinya menjadi 3 sampai 7 sarang) yang akan di telurkan pada musim tersebut.
Secara anatomi, penyu memiliki karapas, yaitu bagian tubuh yang dilapisi zat tanduk, yang berada di bagian punggung dan berfungsi sebagai pelindung. Selain itu, penyu juga memiliki lapisan penutup dan pelindung di bagian dada dan perut yang disebut dengan Plastron.
Bentuknya kurang lebih mirip dengan kura-kura, namun dengan bentuk kaki yang cukup berbeda. Penyu memiliki bentuk kaki yang sedikit pipih. Kaki dengan bentuk pipih ini berfungsi juga sebagai sirip dayung dan pada bagian kaki belakang memiliki fungsi tambahan yakni sebagai alat penggali dan kemudi.
Secara morfologi, penyu memiliki perbedaan karakteristik eksternal antara spesies. Seperti misalnya, jenis cangkang (lunak atau keras) serta ada atau tidaknya lempengan sisik di kepala (scales) dan di karapas (scutes). Jumlah dan susunan lempengan (scutes) pada cangkang, baik cangkang bagian atas (karapas) maupun cangkang bagian bawah (plastron), serta jumlah lempengan sisik (scales) pada kepala.
Bicara konservasi penyu
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL), Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu untuk tahun 2021-2025. Dokumen RAN Konservasi Penyu ini memberikan arahan dan acuan bagi stakehoders dalam melakukan upaya konservasi penyu secara terintegrasi.
Penyu merupakan salah satu jenis yang dilindungi secara nasional dan internasional, serta termasuk dalam target prioritas pengelolaan konservasi jenis ikan di KKP. Sebelumnya, Dit. KKHL telah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan RAN konservasi penyu periode 2016-2020 dan mengidentifikasi isu serta tantangan konservasi penyu.
Ada 6 tantangan dalam konservasi penyu, yaitu pendataan, riset, populasi, habitat, kelembagaan, ekonomi, dan kegiatan aktivitas perikanan. Berdasarkan tantangan tersebut, maka isu dalam RAN konservasi penyu periode berikut di kelompokan menjadi pendataan, riset dan penilaian populasi; kerusakan habitat; kelembagaan dan penegakan hukum; kontribus ekonomi; dan aktivitas manusia. Untuk menjawab isu dan tantangan tersebut maka diusulkan 5 sasaran dan 13 strategi dalam RAN konservasi penyu periode kedua.
Melalui riset aksi partisipatif yang dilakukan YKL Indonesia bersama masyarakat/nelayan Pulau Langkai dan Lanjukang Kota Makassar, terdapat dua jenis penyu yang paling sering dijumpai, yaitu Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Hijau (Chelonia mydas).
Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) mulai dinilai dalam Red List Spesies Terancam IUCN pada tahun 2008. Eretmochelys imbricata yang tergolong dalam famili Cheloniidae dan saat ini terdaftar sebagai Terancam Punah (Critically Enangered). Begitu juga dengan Penyu Hijau (Chelonia mydas), spesies satu ini sama-sama famili Cheloniidae dan terdaftar dalam Red list IUCN Sangat Terancam Punah (Critically Enangered).
Jumlah penyu semakin berkurang karena banyak diburu untuk diambil pelindung tubuhnya (karapas dan plastron) sebagai hiasan, telurnya sebagai sumber protein tinggi dan obat, juga dagingnya sebagai bahan makanan. Semua penyu ini masuk dalam daftar CITES kategori Appendix I yang berarti dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional.
Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan beberapa perwakilan nelayan di Pulau Lanjukang, diketahui bahwa dengan adanya Proteksi Gama yang berjalan selama kurang lebih 1 tahun, pengambilan telur penyu di pesisir pulau sudah tidak ada lagi. Masyarakat secara sadar tidak lagi mengonsumsi telur penyu.
Bahkan, sejak kehadiran program ini, terdapat kelompok masyarakat konservasi penyu di Pulau Lanjukang, yang sekaligus berdampak baik bagi wisata. Setelah masyarakat melakukan konservasi terhadap penyu yang naik ke pulau, tingkat kelangsungan hidup telur penyu yang sudah menetas lebih tinggi karena sudah tidak dikonsumsi lagi telurnya.
Sumber:
1. Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
2. www.iucnredlist.org/
3. https://cites.org/
4. YKL Indonesia