MAKASSAR — Pagi itu, beberapa nelayan duduk melingkar di atas lantai kayu rumah panggung di Pulau Langkai. Di hadapan mereka terbentang kertas besar. Garis-garis mulai ditarik. Titik-titik ditandai. Laut yang selama ini mereka jelajahi setiap hari, kini sedang mereka gambar dari ingatan. Bukan untuk sekadar mengenang, tetapi untuk memahami.
Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia memulai langkah awal Program Penguatan Ekonomi dan Konservasi Gurita Berbasis Masyarakat (PROTEKSI GAMA) di Pulau Langkai dan Pulau Lanjukang, Kota Makassar. Sebelum berbicara tentang intervensi, pelatihan, atau penguatan kelembagaan, satu hal dianggap paling penting: mendengarkan masyarakat dan menyusun profil perikanan gurita bersama mereka.
Selama sepekan, tepatnya 1–8 Juni 2021, diskusi-diskusi kecil berlangsung di rumah warga, di dermaga, bahkan di sela waktu nelayan memperbaiki perahu. Tidak ada presentasi panjang. Yang ada adalah percakapan.
Tentang bagaimana dulu mereka melaut dengan perahu layar. Tentang kapan gurita mulai menjadi primadona. Tentang musim yang kini terasa berubah. Tentang hasil tangkapan yang tak lagi seperti dulu.

“Banyak hal yang sebenarnya kami lakukan setiap hari, tapi baru sekarang kami duduk bersama untuk membicarakannya,” ujar Erwin, salah satu nelayan.
Bagi YKL Indonesia, proses ini bukan sekadar pengumpulan data, tetapi ruang refleksi bersama. “Kami memfasilitasi masyarakat untuk memetakan sendiri wilayah tangkapnya, menggambarkan profil perikanannya, dan merekam pengalaman mereka tentang perubahan yang terjadi. Profil ini bukan milik kami, tapi milik masyarakat,” ujar Alief Fachrul Raazy, Project Coordinator PROTEKSI GAMA.
Menurut Fahri sapaan dari Alief, sebelum berbicara tentang penguatan tata kelola, masyarakat perlu memiliki gambaran utuh tentang kondisi perikanannya sendiri. “Kami ingin memastikan bahwa setiap langkah ke depan berbasis pada pemahaman bersama, bukan asumsi,” tambahnya.

Menggambar Laut, Membaca Kondisi EkosistemProses penyusunan profil tidak berhenti pada diskusi dan pemetaan wilayah tangkap. Masyarakat juga terlibat langsung dalam melihat kondisi ekosistem yang menjadi rumah bagi gurita.
Pendataan tutupan terumbu karang dilakukan menggunakan metode Rapid Reef Assessment (RRA) dengan snorkeling pada area 10 x 10 meter di beberapa titik survei. Warga ikut turun langsung ke laut, mengamati, menghitung, dan mencatat kondisi karang.
“Dengan keikutsertaan masyarakat, mereka bisa mengetahui kondisi terumbu karang di sekitar pulau dan memahami perannya sebagai habitat penting bagi gurita,” jelas Fahri.
Dari hasil pengamatan lapangan, rata-rata tutupan karang hidup di Pulau Langkai tercatat sekitar 20 persen. Sementara di Pulau Lanjukang berkisar antara 20 hingga 55 persen di beberapa titik. Mengacu pada kriteria baku tutupan lahan dalam Kepmen LH No. 4/2001, kondisi tersebut termasuk dalam kategori rusak ringan.
Bagi sebagian nelayan, pengalaman ini membuka cara pandang baru. Ramil, nelayan Pulau Langkai, mengaku sangat senang dilibatkan secara penuh dalam proses penyusunan profil.
“Banyak hal yang sebenarnya kami lakukan dan lihat sehari-hari. Sebelumnya kami sudah tahu kalau kondisi laut, khususnya terumbu karang, semakin rusak, tapi tidak tahu angkanya berapa. Ini kami diajak langsung mengukur dan tahu hasilnya,” ujar Ramil.
Baginya, mengetahui angka bukan sekadar soal data, tetapi soal kesadaran. Ia berharap, profil perikanan gurita yang sedang disusun ini dapat menjadi bahan bersama untuk meningkatkan kelestarian laut di Pulau Langkai dan Lanjukang, sekaligus memberi dampak ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat.

Sebuah Awal, Bukan Kesimpulan
Di pulau-pulau kecil di Kota Makassar, gurita yang oleh nelayan disebut “gama” bukan sekadar komoditas. Ia adalah bagian dari strategi bertahan hidup. Ketika harga ikan lain turun, gurita bisa menjadi penyelamat. Ketika cuaca tidak bersahabat, nelayan menyesuaikan lokasi tangkapnya.
Namun perubahan juga datang perlahan. Permintaan pasar yang meningkat membuat semakin banyak nelayan beralih menangkap gurita. Wilayah tangkap semakin luas. Perjalanan semakin jauh. Biaya operasional tak selalu sebanding dengan hasil.
Di tengah situasi itu, PROTEKSI GAMA hadir bukan untuk membawa aturan dari luar, melainkan membuka ruang diskusi tentang masa depan: bagaimana menjaga sumber daya tetap ada, sekaligus memastikan nelayan tetap sejahtera.
Penyusunan profil perikanan gurita ini masih dalam proses. Ia adalah langkah awal untuk memahami, bukan untuk menyimpulkan. Hasilnya kelak diharapkan menjadi pijakan bersama—bukan hanya bagi YKL Indonesia, tetapi bagi masyarakat sendiri.
Di Pulau Lanjukang yang penduduknya tak sampai seratus jiwa, dan di Pulau Langkai yang lebih ramai, percakapan tentang gurita kini tak lagi sebatas soal harga. Ia mulai menyentuh soal keberlanjutan.