MAKASSAR – Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan KEHATI) bersama Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, dengan dukungan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), memperkuat kawasan mangrove di Lantebung, Kota Makassar.
Kegiatan ini dilakukan melalui penanaman 2.500 bibit mangrove dan pelepasliaran 100 ekor kepiting bakau, Selasa 16 Desember 2025.
Program tersebut merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BTN yang dilaksanakan di tiga kawasan pesisir di Indonesia.
Di Kota Makassar, kegiatan ini melibatkan kelompok masyarakat Jaringan Ekowisata Mangrove Lantebung (JEKOMAALA) serta kelompok pemuda Ikatan Keluarga Lantebung (IKAL).

Dukung Rehabilitasi Pesisir dan Mitigasi Perubahan Iklim
Program ini bertujuan mendukung rehabilitasi ekosistem pesisir. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim. Mangrove berperan penting sebagai penyerap dan penyimpan karbon biru (blue carbon).
Oleh karena itu, penguatan kawasan mangrove menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim.

Lantebung sebagai Situs Belajar Rehabilitasi Mangrove
Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, menyampaikan bahwa Lantebung merupakan salah satu kawasan dengan sisa mangrove terakhir di Kota Makassar.
Karena itu, kawasan ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak.
“Kegiatan ini memperkuat situs belajar rehabilitasi mangrove yang telah digagas bersama masyarakat sejak 2023. Kami ingin menghadirkan ruang pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh banyak pihak,” ujar Nirwan.
Seiring bertambahnya tutupan mangrove, kawasan Lantebung turut mendukung peningkatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Makassar. Selain itu, potensi penyerapan karbon juga semakin meningkat.

Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Pesisir
Tidak hanya berdampak ekologis, mangrove juga memberi manfaat ekonomi.
Saat ini, kawasan mangrove Lantebung berkembang sebagai destinasi ekowisata dan mendukung perikanan rajungan.
Sementara itu, kepiting bakau mulai kembali ditemukan meskipun jumlahnya masih terbatas.
Untuk mempercepat pemulihan, dilakukan pelepasliaran bibit kepiting bakau.
“Harapannya, sumber pendapatan masyarakat menjadi lebih beragam dan berkelanjutan,” jelas Nirwan.

Peran Aktif Masyarakat Lokal
Perwakilan IKAL, Busrah, menyampaikan apresiasi kepada BTN, Yayasan KEHATI, dan YKL Indonesia.
Menurutnya, program ini tidak berhenti pada penanaman semata.
“Kami terlibat langsung dalam perawatan dan pemantauan mangrove setelah penanaman,” ujar Busrah.
Selain itu, masyarakat juga melakukan pendataan pertumbuhan mangrove setiap bulan.
Bahkan, pengalaman dari Lantebung telah dibagikan kepada berbagai lembaga dan komunitas lain.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pesisir Berkelanjutan
Manajer Program Ekosistem Kelautan Yayasan KEHATI, Toufik Alansar, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, penanaman mangrove harus dibarengi dengan komitmen jangka panjang.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa dunia usaha memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan pesisir,” ujarnya.
Ia menambahkan, inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs 13 dan SDGs 14.

Komitmen Keberlanjutan BTN
Corporate Secretary BTN, Ramon Armando, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan perusahaan. BTN secara konsisten menjalankan berbagai aksi lingkungan hidup.
“Keberlanjutan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Bumi adalah rumah bersama yang harus kita jaga,” kata Ramon.
Selain di Lantebung, kegiatan penanaman mangrove dilaksanakan sepanjang Desember 2025.
Lokasi lainnya meliputi Desa Kaliwlingi di Kabupaten Brebes dan pesisir Wonokerto di Kabupaten Pekalongan.
Melalui program ini, BTN dan Yayasan KEHATI berharap terbangun sinergi berkelanjutan.
Tujuannya adalah menciptakan kawasan pesisir yang hijau, tangguh, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.