Intensi Bersama Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan, Berkeadilan dan Berkearifan Lokal

MAKASSAR – Sulawesi Selatan memiliki sumberdaya ikan melimpah dalam WPP 713. Perpaduan konsumsi ikan perkapita lokal yang tinggi dan permintaan ekspor adalah potensi ekonomi besar yang diharapkan menopang penghidupan dan kesejahteraan nelayan.

Sayangnya praktek penangkapan ikan tidak ramah lingkungan masih terjadi. Banyak rekan-rekan penggiat NGO bekerja pada isu perikanan berkelanjutan. Inisiatif dan praktek baik juga telah berjalan di beberapa lokasi di Sulsel.

Pembelajaran dan praktek baik ini berpeluang untuk diadaptasi di lokasi lain. Jika disinergikan dengan program stakeholders lain terutama pemerintah dan sektor swasta akan memperkuat inisiatif ini.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, Nirwan Dessibali saat membuka Focus Group Discussion dengan tema intensi bersama untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan, berkeadilan dan berkearifan lokal di Sulawesi Selatan, Senin (12/9/2023) di Red Corner Cafe Kota Makassar.

Yusran Nurdin Massa dan Nirwan Dessibali saat memulai FGD

Kegiatan ini, diinisiasi alumni BEKAL Pemimpin berkolaborasi dengan YKL Indonesia, Yayasan Hutan Biru/Blue Forests Foundation, Jaring Nusa KTI dan Mongabay Indonesia.

Nirwan menyampaikan perlun mendorong prototype pengelolaan perikanan berkelanjutan di Sulsel melalui sinergitas dan kolaborasi lintas sektor baik pemerintah, NGO, swasta dan nelayan.

“Hampir seluruh wilayah di Sulawesi Selatan banyak NGO yang bergerak di bidang kelautan dan perikanan. Ada sekitar 22 yang aktif beraktivitas,” jelas Nirwan yang juga Alumni BEKAL Pemimpin angkatan 2.

“Sehingga forum ini hadir untuk membangun dan menjalin silaturahmi memajukan pengelolaan perikanan. Diharapkan ada rekomendasi yang dikeluarkan untuk ke depan,” lanjutnya.

Diskusi Word Cafe

Sementara Yusran Nurdin Massa, Environmental Technical Advisor Yayasan Hutan Biru yang juga alumni BEKAL Pemimpin angkatan 1 yang memandu jalannya FGD menjelaskan jika pembelajaran dan praktek baik ini berpeluang untuk diadaptasi di lokasi lain. Jika disinergikan dengan program stakeholders lain terutama pemerintah dan sektor swasta akan memperkuat inisiatif ini.

“Ada banyak praktik baik dari lembaga-lembaga yang dapat dijadikan bahan pembelajaran. Kita mau menyatukan intensi itu. Belajar inisiatif-inisiatif dari tingkat tapak,” terangnya.

Pemaparan hasil diskusi kelompok kecil

FGD berlangsung dengan mengadopsi World Café Dialogue yang kerap diadopsi oleh pendekatan peningkatan kapasitas para pihak dengan konsep U Theory yang dirintis oleh Prof Otto Scharmer. Wolrd Café Dialoge ini memberikan kesempatan kepada para peserta untuk menceritakan pengalamannya di organisasinya, lalu berpindah ke meja lain dan mencari titik temu untuk menyusun inisiatif bersama.

Ada tiga tema, pertama intensi bersama dimana masing-masing NGO menyampaikan inisiatif program atau kegiatan yang dilaksanakan di Sulsel dan intensi bersama serta priorotas utama dalam mendorong perikanan berkelanjutan.

Kedua, pemaparan rencana arah kebijakan dan program pengelolaan perikanan berkelanjutan di Sulsel dan ketiga, refleksi dan Penyusunan rekomendasi bersama.

Diskusi Word Cafe

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan yang hadir memberi semangat para peserta ikut mengapresiasi kegiatan ini dan menyebut kerjasama antar NGO sangat penting bagi pengelolaan kelautan dan perikanan Sulawesi Selatan.

“Kami sangat berharap kerjasama seperti terus melibatkan DKP Sulsel, karena apa yang menjadi fokus kegiatan ini adalah juga bagian dari perhatian kami, seperti upaya konservasi dan pengelolaan kawasan,” katanya.

Beberpa pihak yang hadir dalam kegiatan ini adalah Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, M. Ilyas, perwakilan Burung Indonesia, Habituasi, Lanra Link, Lembaga Maritim Nusantara (LEMSA), Mongabay Indonesia, KlikHijau.com, Nypah Indonesia, Sulawesi Community Foundation (SCF), Sustainable Fisheries Partnership, Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia, Yayasan Alam Indonesia Lestari (LINI), Yayasan Banua Biru Indonesia (YBBI), Yayasan COMMIT, Yayasan EcoNatural Society.

Yayasan Ekonomi Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia (YEKHALI), Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI), Yayasan Mattirotasi, Yayasan Pesisir Lestari (YPL), Yayasan Rekam Jejak Nusantara (REKAM), Yayasan Romang Celebes, Satu Kata, Blue Forest, Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, JARING NUSA KTI dan Alumni Bekal Pemimpin.

Berita Terkait

Scroll to top