Perlindungan dan Pelestarian Spesies Laut Terancam Punah Secara Global

Penulis : Ikhwanul Tsabit 

Mahasiswa Universitas Bosowa Makassar Prodi Ilmu Hubungan Internasional

Data dari Organisasi global IUCN (International Union for Conservation of Nature) tercatat lebih dari 44 ribu spesies di bumi terancam punah. Jumlah itu baru 28 persen dari 157.100 spesies yang masuk daftar merah. IUCN memiliki standar global untuk pengkategorian spesies terancam punah. Kategori tersebut menjadi referensi bagi organisasi konservasi dan pemerintah di seluruh dunia.

Spesies yang terancam punah tersebut hidup di darat maupun di laut. Padahal keanekaragaman hayati tersebut sangat penting bagi keseimbangan kelestarian ekosistem dan tentunya memberikan manfaat bagi manusia. Khusus di laut, IUCN mengungkap 1.550 dari 17.903 tanaman dan hewan laut terancam punah. Fakta itu dipaparkan dalam rilis laporan yang bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB tentang alam di Montreal, Kanada pada Desember 2022.

Menyikapi hal tersebut, berbagai inisiatif dilakukan berbagai pihak. Termasuk, Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia yang konsisten melakukan perlindungan dan pelestarian spesies laut terancam punah secara global. Berikut inisiatif YKL Indonesia yang dilaksanakan pada tahun 2023 pada periode september – November.

Tata Kelola Wilayah Laut Berbasis Masyarakat yang Melindungi Spesies Prioritas Penting

Pelepasan bersama tukik penyu di Pulau Lanjukang

YKL Indonesia didukung Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) dan Burung Indonesia melaksanakan Program Penguatan Ekonomi dan Konservasi Gurita berbasis Masyarakat disingkat (PROTEKSI GAMA) sejak Mei 2021. Tujuan jangka panjang program ini adalah terumbu karang dan spesies prioritas penting di perairan pesisir Langkai dan Lanjukang terlindungi. Program ini memperkuat pengelolaan perikanan gurita skala kecil berbasis masyarakat.

Melalui program ini telah berdampak khususnya pada mengurangi ancaman 6 spesies yang terancam punah secara global yakni Whale Shark (Rhincodon typus), Thresher shark (Alopias sp.), Shortfin mako (Isurus oxyrinchus), Hiu Black tip (Carcharhinus sp.), Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu hijau (Chelonia mydas)

Tata kelola wilayah laut berbasis masyarakat ini diterapkan melalui sistem buka tutup selama 3 bulan. Nelayan dan masyarakat Pulau Langkai dan Lanjukang, Kota Makassar kembali melakukan penutupan sementara lokasi penangkapan gurita selama 3 bulan dimulai 16 September sampai 17 Desember 2023.

Kesepakatan bersama nelayan dan berbagai pihak ini merupakan yang keempat kalinya. Penutupan sementara secara resmi dimulai dengan pemasangan penanda berupa pelampung dengan bendera serta papan informasi terkait penutupan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Selatan Muhammad Ilyas, Sabtu 16 September 2023).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Muhammad Ilyas bersama dengan nelayan saat memasang penanda penutupan sementara wilayah penangkapan gurita

Dalam penutupan ini turut hadir perwakilan BPSPL Makassar, CDK Mamminasata, Dinas Perikanan Kota Makassar, Lurah Barrang Caddi, Penyuluh Perikanan, Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Para pihak bersama dengan masyarakat menandatangani kesepakatan bersama penutupan sementara.

Selanjutnya dilakukan talkshow dengan tema “Integrasi Tata Kelola Wilayah Laut Berbasis Masyarakat (Sistem Buka Tutup Gurita) di Pulau Langkai dan Lanjukang dalam Pencadangan Kawasan Konservasi Pulau Lanjukang dan sekitarnya, Selasa 19 September 2023.

Kegiatan ini bertujuan membangun kolaborasi bersama yang berkelanjutan dalam penguatan tata kelola wilayah laut berbasis masyarakat lokal Sistem buka tutup gurita) di Pulau Langkai dan Lanjukang. Hadir sebagai narasumber perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Praktisi Pemetaan/Spasial Kawasan Konservasi dan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar.

Dari pertemuan ini dihasilkan adanya dukungan dan masukan para pihak untuk keberlanjutan sistem buka tutup, terhimpun masukan dari para pihak dalam mendorong keberlanjutan dan disepakati formula integrasi tata kelola wilayah laut berbasis masyarakat (sistem buka tutup) di Pulau Langkai dan Lanjukang dalam pencadangan kawasan konservasi Pulau Lanjukang dan sekitarnya.

Menindaklanjuti hasil pertemuan talkshow, masyarakat menginisiasi kelembagaan di level masyarakat dengan harapan pengelolaan wilayah buka tutup setelah Program berakhir dapat berjalan secara mandiri, Jumat 22 September 2023. PROTEKSI GAMA yang difasilitasi YKL Indonesia telah berada dalam fase terakhir dan akan berakhir Oktober 2023. Hampir tiga tahun terakhir penguatan di level Masyarakat telah membuahkan hasil dengan munculnya kesepakatan bersama  dalam hal buka-tutup wilayah penangkapan.

Walaupun sudah ada penguatan di level masyarakat dalam penentuan wilayah buka-tutup, akan tetapi inisiasi yang dilakukan masih fasilitasi oleh YKL Indonesia dan belum sepenuhnya diinisiasi langsung oleh masyarakat. Pertemuan dihadiri sekitar 30-an nelayan Langkai dan Lanjukang membuahkan hasil dengan kesepakatan kelembagaan bernama FORUM PASIBUNTULUKI (Pengelolaan Sistem Buka-Tutup Gurita Lanjukang-Langkai).

Peta Lokasi Sistem Buka Tutup Pulau Langkai dan Lanjukang Kota Makassar

Forum ini diharapkan menginisiasi pertemuan – pertemuan penentuan wilayah buka-tutup setelah program fasilitasi YKL Indonesia berakhir. Setelah Forum PASIBUNTULUKI diinisiasi harapan YKL Indonesia Nelayan Langkai dan Lanjukang bisa kuat secara kelembagaan untuk menguatkan tata kelola dan komitmen YKL Indonesia tetap melakukan pendampingan dalam bentuk peningkatan kapasitas dan distribusi informasi ke nelayan Langkai dan Lanjukang.

Tahap akhir yang dilaksanakan pada program PROTEKSI GAMA adalah diseminasi yang dikemas dalam bentuk seminar dengan tema Jaga Laut, Jaga Kehidupan: Kolaborasi Penguatan Tata Kelola Wilayah Laut Berbasis Masyarakat pada Rabu, 25 Oktober 2023.

Kegiatan yang dihari berbagai pihak ini bertujuan Menyebarkan hasil pembelajaran yang berbuah kesepakatan tata kelola wilayah laut berbasis masyarakat dalam bentuk sistem buka tutup penangkapan gurita. Adanya dukungan dan masukan para pihak untuk keberlanjutan tata kelola wilayah laut dan perikanan skala kecil gurita.

Mendorong berbagai pihak khususnya dari perguruan tinggi untuk mengakses Pulau Langkai dan Lanjukang sebagai lokasi untuk pengembangan program dan penelitian yang mendukung keberlanjutan tata kelola yang telah dilaksanakan masyarakat. Memberikan Informasi potensi dan peluang kolaborasi dalam penguatan tata kelola wilayah laut dan perikanan skala kecil di Pulau Langkai dan Lanjukang. Mendorong sinergitas multi stakeholder dalam pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, YKL Indonesia dan Kredit Plus Inisiasi Aksi Bersih Pantai

Proses Pemilahan Sampah pada kegiatan aksin bersih pantai

Minggu 5 November 2023, bertepatan dengan hari cinta puspa dan satwa nasional Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia mengadakan acara aksi bersih pantai di kawasan pantai Tanjung Bayang, Makassar, provinsi Sulawesi Selatan, yang dibantu oleh 24 komunitas dan lembaga, serta dihadiri oleh 183 orang.

Acara aksi bersih pantai tersebut didukung oleh PT KB Finansia Multi Finance (Kredit plus) dengan mendonasi 2000 bibit mangrove yang akan diberikan kepada Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia untuk nantinya akan dilakukan penanaman.

Antusiasme peserta bersih pantai terlihat sangat tinggi mulai dari mahasiswa serta lembaga-lembaga yang ikut serta dalam kegiatan tersebut, Kegiatan ini sebagai sarana edukasi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi Masyarakat untuk menjaga daerah pantai dan laut.

Lagi- lagi sampah plastik sangat mendominasi sampah yang ada di pantai Tanjung Bayang , berikut jumlah sampah yang terkumpul, sampah plastik seberat 80,9 Kg, logam seberat 3,7 kg, karet seberat 19,98 kg, kaca seberat, 33,6 kg, styrofoam seberat 14,2 kg, kertas seberat 8,13 kg, kain seberat 27,78 kg, b3 8,28 kg, organik 21,92 kg, dan sampah lainnya seberat 44,7 kg. 30% sampah tersebut akan dikirim ke bank sampah dan di recycle kembali dan lebih nya dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Lokasi Tanjung bayang menjadi tempat aksi bersih pantai dikarenakan Tanjung Bayang adalah salah satu tempat rekreasi yang sangat ramai didatangi dan kurangnya kesadaran masyarakat sekitar terhadap lingkungan sekitar pesisir pantai. Sampah-sampah tersebut berasal dari pengunjung pantai Tanjung bayang yang berjumlah ribuan orang di setiap akhir pekan. Meski pantai ini ramai pengunjung, tidak terlihat adanya tempat sampah yang disediakan oleh penduduk sekitar. Akibatnya, sampah bertebaran begitu saja di tepi pantai. Tidak pula ada tukang sampah yang bertugas membersihkan pantai tersebut.

Pentingnya upaya bersama mengurangi sampah plastik di Kota Makassar mengingat keterikatan Makassar dengan laut yang cukup besar, baik secara geografis, kultur dan gaya hidup. Apalagi Makassar termasuk kota dengan konsumsi ikan terbesar di Indonesia.

Aksi bersih pantai ini bukan yang pertama kali, pada tanggal 15 maret 2020 YKL Indonesia juga telah melakukan aksi bersih pantai yang diikuti oleh 57 komunitas dan lembaga dengan jumlah peserta sekitar 1300 orang dan mengumpulkan sampah sebanyak 1436,12 kg.

Jumlah sampah yang terus meningkat tiap tahunnya adalah tantangan bagi pemerintah dan masyarakat sekitar agar adanya kesadaran masing-masing untuk lebih bijak dalam membuang sampah dan merecycle sampah yang di lingkungan masing masing.

Artikel ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas luaran magang di Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia periode September s.d November 2023.

Sumber :

  • International Union for Conservation of Nature (IUCN)
  • Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia

Berita Terkait

Scroll to top