Dari Dapur ke Pasar, Perempuan Pulau Langkai Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut

MAKASSAR — Perempuan pesisir di Pulau Langkai, Kota Makassar, memperkuat kapasitas pemasaran produk dan pengelolaan keuangan kelompok untuk mengembangkan usaha berbasis potensi perikanan lokal. Upaya ini dilakukan melalui Pelatihan Teknik Pemasaran dan Literasi Keuangan dalam Program Ewaki (Penguatan Wirausaha Perempuan Langkai) pada 30 April–4 Mei 2024.

Kegiatan yang dilaksanakan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dengan dukungan Direct Aid Program (DAP) – Konsulat Jenderal Australia di Makassar ini melibatkan 20 ibu rumah tangga yang tergabung dalam dua Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar), yaitu Merpati Putih dan Cahaya Rembulan.

Pelatihan ini berfokus pada pengembangan strategi pemasaran produk olahan hasil laut, pemenuhan persyaratan dasar produk pangan, serta penguatan pencatatan dan pengelolaan keuangan kelompok agar usaha dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.

Dari Dapur ke Pasar, Perempuan Pulau Langkai Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut

Memperluas Pemasaran Produk Olahan Hasil Laut

Pada sesi pertama, peserta mendiskusikan pengalaman mereka dalam memasarkan produk olahan hasil laut. Nirma, Ketua Kelompok Cahaya Rembulan, menjelaskan bahwa pemasaran selama ini masih mengandalkan jaringan pertemanan, penjualan ke pulau tetangga, serta keluarga yang berkunjung ke Pulau Langkai. Kelompoknya juga mulai menitipkan produk abon di toko kenalan di Makassar.

Pengalaman tersebut menjadi dasar pembahasan mengenai strategi pemasaran yang dapat diterapkan untuk memperluas jangkauan konsumen. Narasumber Alief Fachrul Raazy menjelaskan sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pemasaran, mulai dari cita rasa khas produk, kemasan yang menarik, hingga pemenuhan persyaratan legalitas dan keamanan pangan.

Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pengurusan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikasi halal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan produk untuk dipasarkan. Proses produksi yang higienis menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam memenuhi persyaratan tersebut.

Selain pemasaran secara langsung, peserta diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok untuk mempromosikan produk. Sistem penjualan melalui reseller juga dibahas sebagai alternatif untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Melalui materi tersebut, kelompok didorong untuk tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga memperhatikan kualitas, kemasan, legalitas, dan strategi pemasaran agar produk memiliki peluang lebih besar untuk diterima konsumen.

Dari Dapur ke Pasar, Perempuan Pulau Langkai Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut

Membangun Pencatatan Keuangan yang Transparan

Pelatihan selanjutnya berfokus pada literasi keuangan kelompok yang difasilitasi oleh Nuryamin. Dalam sesi ini, peserta berbagi pengalaman mengenai cara mencatat pengeluaran, mengelola modal, dan menentukan harga jual produk.

Nurjannah, Ketua Kelompok Merpati Putih, mengungkapkan bahwa kelompoknya telah mencatat pengeluaran untuk pembelian bahan baku, tetapi pencatatan tersebut belum dilakukan secara terperinci. Kondisi ini menyulitkan anggota ketika meninjau kembali penggunaan uang kelompok.

“Selama ini kami sudah mencatat pengeluaran untuk membeli bahan-bahan produksi, tetapi pencatatannya belum terperinci. Kami masih perlu belajar bagaimana mencatat keuangan dengan lebih rapi agar bisa mengetahui dengan jelas penggunaan uang kelompok dan menghitung biaya produksi. Dengan begitu, kami bisa mengelola usaha dengan lebih baik,” ungkap Nurjannah.

Sementara itu, Ketua Kelompok Cahaya Rembulan, Nirma, menyampaikan bahwa kelompoknya telah melakukan pencatatan pengeluaran secara lebih terperinci, tetapi masih membutuhkan pendampingan agar catatan keuangan tersusun dengan rapi.

Menanggapi pengalaman kedua kelompok tersebut, Nuryamin memfasilitasi diskusi mengenai pencatatan keuangan yang mencakup jenis pengeluaran, jumlah bahan, harga satuan, dan waktu pembelian. Pencatatan yang terperinci diperlukan agar setiap penggunaan dana kelompok dapat ditelusuri dan dipertanggungjawabkan.

Peserta juga membahas penentuan harga jual dan mekanisme pembagian keuntungan. Dalam pelatihan tersebut, harga abon ditetapkan sebesar Rp25.000 per bungkus, dengan harga reseller Rp20.000 untuk pembelian minimal lima bungkus. Sementara itu, sambal gurita ditetapkan seharga Rp35.000 per botol, dengan harga reseller Rp30.000 untuk pembelian minimal lima botol.

Kedua kelompok juga menyepakati mekanisme pembagian keuntungan setelah tiga kali proses pengolahan. Anggota yang hadir dan terlibat dalam proses pengolahan akan memperoleh insentif sebesar Rp5.000 per orang. Selain itu, 10 persen dari hasil penjualan disisihkan sebagai tabungan kelompok yang dapat digunakan untuk menambah modal usaha dan memenuhi kebutuhan mendesak.

Kesepakatan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun pengelolaan keuangan yang lebih teratur sekaligus memperjelas mekanisme penggunaan dan pembagian hasil usaha.

Dari Dapur ke Pasar, Perempuan Pulau Langkai Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut

Pendampingan untuk Mengembangkan Usaha Perempuan

Semangat anggota kelompok untuk meningkatkan kualitas produk dan mengurus PIRT menjadi salah satu faktor pendukung pelaksanaan pelatihan. Koordinasi yang terbangun di antara anggota juga membantu diskusi berjalan dengan baik.

Adi Zulkarnaen, fasilitator YKL Indonesia, menekankan bahwa pengembangan usaha perempuan di Pulau Langkai perlu didukung oleh kemampuan pemasaran dan pengelolaan keuangan yang baik.

“Pengembangan usaha perempuan di Pulau Langkai perlu didukung oleh kemampuan memasarkan produk dan mengelola keuangan secara baik. Produk yang berkualitas perlu diimbangi dengan kemasan yang menarik, strategi pemasaran yang tepat, serta pencatatan keuangan yang transparan. Dengan begitu, kelompok dapat mengetahui perkembangan usahanya dan memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” ujar Adi.

Meski demikian, kelompok masih membutuhkan pendampingan dalam menerapkan pencatatan keuangan secara konsisten. Selama pelatihan, penjelasan mengenai pencatatan perlu diulang dan disertai praktik terperinci agar peserta memahami cara mengelola keuangan usaha dengan baik.

Sebagai tindak lanjut, fasilitator akan melanjutkan komunikasi dengan kelompok pengolah dan pemasar untuk memantau perkembangan usaha serta memberikan masukan terkait pengelolaan kelompok. YKL Indonesia juga merencanakan koordinasi dengan penyuluh perikanan untuk mendukung pengurusan administrasi produk.

Selain itu, fasilitator akan membantu menyiapkan email dan akun media sosial berupa Facebook, Instagram, dan TikTok sebagai sarana promosi produk olahan hasil laut dari Pulau Langkai.

Melalui Program Ewaki, YKL Indonesia mendorong perempuan pesisir untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal melalui peningkatan keterampilan pemasaran, penguatan literasi keuangan, dan pengelolaan kelompok yang lebih transparan. Penguatan kapasitas ini diharapkan menjadi fondasi bagi usaha perempuan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Scroll to top