Belajar dari CMC, Dua Desa di Donggala Dorong Wisata yang Lestarikan Alam dan Sejahterakan Masyarakat

MALANG – Mengembangkan destinasi wisata tidak cukup hanya dengan menghadirkan pemandangan alam yang menarik. Bagi Desa Lalombi dan Desa Tolongano, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, pengembangan wisata perlu dimulai dari bagaimana menjaga alam, membangun kelembagaan masyarakat, mengatur aktivitas wisata, hingga memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat.

Semangat tersebut menjadi salah satu pembelajaran utama dalam studi tiru pengelolaan ekowisata dan pengembangan produk ke Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada 25–27 Agustus 2026.

Kegiatan ini dilaksanakan melalui Program SOLUSI oleh Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia bersama Yayasan Bonebula Donggala sebagai mitra Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dalam konsorsium SOLUSI.

Studi tiru diikuti oleh perwakilan Pemerintah Desa Lalombi, Pemerintah Desa Tolongano, serta kelompok masyarakat dari kedua desa. Peserta didampingi oleh tim YKL Indonesia dan Yayasan Bonebula untuk mengikuti rangkaian pembelajaran secara langsung di CMC Tiga Warna.

Bagi Desa Lalombi dan Desa Tolongano, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas dalam menyiapkan pengembangan ekowisata mangrove yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisata, tetapi juga pada kelestarian lingkungan dan manfaat bagi masyarakat.

Kedua desa memiliki kawasan mangrove yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi ekowisata. Selain memiliki fungsi ekologis penting bagi wilayah pesisir, kawasan mangrove juga dapat menjadi ruang edukasi lingkungan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha masyarakat.

Pendiri CMC Tiga Warna, Saptoyo, menyampaikan pemaparan mengenai inovasi pengelolaan ekowisata, termasuk penerapan nilai ekologi, sosial, dan ekonomi dalam menjaga keberl

Belajar Langsung dari Pendiri CMC Tiga Warna

Berbeda dengan kunjungan biasa, peserta studi tiru mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari Saptoyo, pendiri dan penggerak CMC Tiga Warna, mengenai perjalanan membangun kawasan konservasi hingga berkembang menjadi destinasi ekowisata berbasis masyarakat.

Dalam sesi pembelajaran, peserta mendapatkan gambaran mengenai proses panjang yang dilalui CMC, mulai dari membangun kesadaran masyarakat, memperkuat kelembagaan, menjaga kawasan, mengatur aktivitas wisata, hingga mengembangkan kegiatan ekonomi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa keberhasilan ekowisata tidak dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan proses, konsistensi, kelembagaan yang kuat, aturan yang jelas, serta keterlibatan masyarakat.

Peserta kemudian didampingi oleh tim CMC Tiga Warna untuk melihat secara langsung berbagai destinasi yang dikelola. Tidak hanya mendengarkan penjelasan di dalam ruangan, peserta diajak mengeksplorasi kawasan dan melihat bagaimana prinsip konservasi diterapkan dalam pengelolaan destinasi wisata.

CMC Tiga Warna memiliki berbagai destinasi. Masing-masing memiliki karakteristik dan daya tarik tersendiri dengan penerapan konservasi dan pemanfaatan wisata secara terbatas. Dalam kunjungan lapangan tersebut, peserta melihat secara langsung sistem pengelolaan kawasan, mekanisme operasional, pelayanan wisatawan, sistem pemanduan, pengaturan aktivitas, serta berbagai upaya menjaga lingkungan.

Peserta juga mendapatkan pengalaman mengeksplorasi Pantai Clungup dan Pantai Gatra, termasuk melihat secara langsung aktivitas wisata yang dapat dilakukan di kawasan tersebut.

Pengalaman ini memberikan gambaran yang lebih utuh bahwa ekowisata bukan hanya tentang keindahan alam yang ditawarkan kepada wisatawan, tetapi tentang bagaimana kawasan tersebut dikelola agar tetap lestari sekaligus memberikan pengalaman yang baik bagi pengunjung dan manfaat bagi masyarakat.

Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, menyampaikan pandangan dan berdiskusi bersama peserta mengenai pengembangan ekowisata berbasis konservasi dan masyarak

Bukan Sekadar Membuka Tempat Wisata

Nirwan Dessibali, Direktur Eksekutif YKL Indonesia, mengatakan pengalaman CMC Tiga Warna menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik tanpa mengorbankan lingkungan.

“Yang kita pelajari di CMC bukan hanya bagaimana membuat kawasan menjadi tempat wisata. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat menjadi pelaku utama, bagaimana kawasan diatur, bagaimana konservasi menjadi bagian dari kegiatan wisata, dan bagaimana manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat,” ujar Nirwan, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, pendekatan tersebut relevan untuk dikembangkan di Desa Lalombi dan Desa Tolongano. Namun, praktik yang diperoleh dari CMC tidak harus ditiru secara mentah. Setiap desa memiliki karakteristik ekosistem, sosial, budaya, kelembagaan, dan potensi ekonomi yang berbeda. Karena itu, pengalaman CMC perlu diterjemahkan kembali sesuai dengan kondisi lokal Donggala.

“Yang dibawa pulang bukan bentuk wisatanya, tetapi prinsip dan pembelajarannya. Bagaimana kita mengelola kawasan dengan baik, bagaimana masyarakat terlibat, bagaimana wisatawan diatur, dan bagaimana kegiatan ekonomi tidak merusak sumber daya alam,” lanjutnya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan studi tiru yang diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas kelompok pengelola ekowisata, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan terkait mengenai praktik pengelolaan ekowisata berbasis konservasi dan masyarakat.

Ketua BPD Desa Lalombi, Hafid, menyampaikan pandangan dan berdiskusi dalam kegiatan studi tiru pengelolaan ekowisata di CMC Tiga Warna, Kabupaten Malang.

Jangan Sampai Wisata Justru Merusak Alam

Bagi Hafid, Ketua BPD Desa Lalombi, kunjungan ke CMC Tiga Warna memberikan gambaran baru mengenai bagaimana potensi alam dapat dikelola menjadi sumber manfaat bagi masyarakat tanpa menghilangkan fungsi ekologisnya.

“Selama ini kita melihat wisata lebih banyak dari sisi tempatnya. Setelah melihat langsung di CMC, kita belajar bahwa yang harus disiapkan bukan hanya tempatnya, tetapi juga masyarakatnya, aturan pengelolaannya, kelembagaannya, dan bagaimana menjaga lingkungannya,” kata Hafid.

Menurut Hafid, salah satu hal yang paling berkesan dari kunjungan tersebut adalah pentingnya membangun rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap kawasan.

“Kalimat kunci yang saya dapat adalah cinta yang dipanjatkan dalam doa bisa terwujud,” ujarnya.

Ia menilai, keterlibatan masyarakat sejak awal menjadi salah satu kunci agar pengembangan wisata tidak hanya memberikan keuntungan sesaat.

“Kalau masyarakat tidak dilibatkan, wisata bisa saja berkembang, tetapi belum tentu masyarakat menjadi bagian dari manfaatnya. Karena itu, kami ingin belajar bagaimana masyarakat bisa menjadi pelaku sekaligus menjaga kawasan,” katanya.

Hafid juga melihat peluang besar untuk mengembangkan potensi alam dan budaya Desa Lalombi sebagai bagian dari paket wisata yang terintegrasi.

Menurutnya, pengembangan wisata tidak harus dilakukan secara besar-besaran sejak awal. Hal yang lebih penting adalah membangun perencanaan dan kelembagaan yang kuat serta memastikan masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kawasan.

“Tidak harus langsung besar. Yang penting kita mulai dengan perencanaan yang baik dan memastikan alam tetap terjaga. Pulang dari ini kami akan konsolidasi dengan kelompok dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan rencana untuk mendorong penyusunan peraturan desa sebagai salah satu produk hukum untuk memperkuat pengembangan wisata.

“Kami juga berencana mendorong peraturan desa sebagai produk hukum untuk penguatan pengembangan wisata. Tidak kalah penting di awal ini adalah menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama melalui sikap dan tindakan nyata di masyarakat, seperti pembersihan mangrove dan pantai,” tambah Hafid.

Kepala Desa Tolongano, Udin, mendalami materi yang disampaikan dalam sesi pembelajaran pengelolaan ekowisata bersama pengelola CMC Tiga Warna.

Laguna dan Mangrove Tolongano Punya Potensi Besar

Pembelajaran serupa dirasakan Udin, Kepala Desa Tolongano. Menurutnya, kunjungan ke CMC Tiga Warna memberikan perspektif baru mengenai pentingnya kelembagaan, aturan, dan pembagian peran dalam pengembangan ekowisata.

“Yang menarik dari CMC adalah bagaimana pengelolaan wisata tidak berdiri sendiri. Ada kelembagaan, ada aturan, ada pembagian peran, dan masyarakat terlibat dalam pengelolaan,” ujar Udin.

Menurutnya, pengelolaan CMC memberikan contoh bagaimana sebuah destinasi dapat dibangun secara terstruktur dengan melibatkan masyarakat dan berbagai pihak.

“Luar biasa terstruktur di tempat CMC. Kami melihat bagaimana pengelolaan wisata dibangun dengan sistem yang jelas dan melibatkan banyak pihak,” katanya.

Udin melihat pengalaman tersebut sangat relevan dengan kondisi Desa Tolongano yang memiliki potensi laguna dan kawasan mangrove.

“Di desa kami, ada laguna dan mangrove yang punya potensi yang luar biasa. Ini yang kami akan dorong menjadi tempat wisata yang tetap menjaga kelestariannya dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, khususnya untuk peningkatan ekonomi,” ujar Udin.

Menurutnya, pengembangan ekowisata tidak boleh hanya mengejar jumlah wisatawan. Desa perlu menentukan sejak awal seperti apa wisata yang ingin dibangun, siapa yang mengelola, bagaimana masyarakat mendapatkan manfaat, dan bagaimana lingkungan tetap terlindungi.

“Kita ingin wisata yang berkembang, tetapi jangan sampai perkembangan wisata membuat lingkungan rusak. Kalau alamnya rusak, pada akhirnya wisata juga akan kehilangan daya tariknya,” katanya.

Ia juga mendorong agar pengembangan ekowisata dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pemerintah desa, kelompok masyarakat, pemuda, perempuan, serta berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap kawasan.

Peserta studi tiru mendengarkan penjelasan terkait aturan dan tata kelola kunjungan wisata yang diterapkan di CMC Tiga Warna untuk menjaga kelestarian kawasan.

Mengatur Wisata Berdasarkan Daya Dukung Lingkungan

Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah cara mengatur aktivitas wisata berdasarkan daya dukung lingkungan. CMC menerapkan sistem reservasi dan kuota kunjungan. Pantai Tiga Warna, misalnya, memiliki kapasitas 100 orang untuk setiap dua jam, sementara Pantai Clungup dan Pantai Gatra masing-masing memiliki kapasitas 300 orang per hari. Area camping juga dibatasi maksimal 75 tenda.

Pembatasan tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak wisatawan tidak selalu berarti semakin baik. Justru, pengaturan jumlah pengunjung menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan sekaligus memastikan wisatawan mendapatkan pengalaman yang baik.

CMC juga menerapkan hari libur bagi kru dan menutup kawasan pada waktu tertentu sebagai bagian dari upaya pemulihan destinasi. Selain itu, terdapat pengelolaan sampah, pembatasan kendaraan bermotor, dan sistem wisata berpemandu.

Pembelajaran tersebut menjadi salah satu bahan diskusi penting bagi peserta dari Donggala.

Firnawati, anggota kelompok Pokdarwis Desa Tolongano, menilai pengalaman melihat langsung pengelolaan kawasan membuatnya memahami bahwa kegiatan wisata membutuhkan aturan yang jelas.

“Ternyata wisata itu bukan hanya membawa orang datang. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari kebersihan, pelayanan, keamanan, sampai bagaimana menjaga kawasan supaya tetap bagus,” ujarnya.

Ia juga melihat peluang untuk memperluas keterlibatan masyarakat melalui pengembangan produk lokal.

Menurutnya, masyarakat tidak harus hanya menjadi pengunjung atau tenaga pelayanan, tetapi dapat terlibat dalam penyediaan makanan, kerajinan, jasa pemandu, produk olahan, maupun berbagai produk lain yang memiliki nilai ekonomi.

Pendiri CMC Tiga Warna, Saptoyo, bersama Hasdin dari Kelompok Tolongano Mangrove Laguna (Tomana) membedah potensi kawasan mangrove dan wisata di Desa Tolongano, Donggala.

Mengubah Potensi Alam Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Pengembangan produk menjadi bagian penting dalam studi tiru tersebut. Peserta belajar bahwa destinasi wisata dapat memberikan ruang bagi berbagai usaha pendukung berbasis potensi lokal. Di Donggala, peluang tersebut dapat dikembangkan melalui produk olahan hasil perikanan, produk berbasis mangrove, kerajinan, kuliner, jasa pemanduan, maupun paket wisata yang mengangkat budaya dan kehidupan masyarakat pesisir.

Hasdin, Ketua Kelompok Tolongano Mangrove Laguna (Tomana), Desa Tolongano, melihat pengembangan produk lokal sebagai peluang untuk memperkuat manfaat ekonomi dari kegiatan wisata.

“Potensi masyarakat sebenarnya banyak. Tinggal bagaimana kita mengemasnya menjadi produk yang bisa ditawarkan kepada wisatawan dan tetap sesuai dengan kemampuan masyarakat,” katanya.

Menurut Hasdin, pengalaman CMC menunjukkan bahwa pengelolaan wisata dapat membuka berbagai jenis pekerjaan dan usaha bagi masyarakat.

“Kami belajar dari alam yang rusak menjadi lestari, kemudian kesadaran masyarakat tumbuh dan akhirnya memberikan manfaat ekonomi. Kalau wisata berkembang, jangan hanya pengelola kawasan yang mendapatkan manfaat. Masyarakat di sekitar juga harus mendapatkan peluang,” ujarnya.

Bagi Hasdin, pengalaman CMC menunjukkan bahwa konservasi dan ekonomi masyarakat bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama apabila dikelola dengan aturan dan kelembagaan yang tepat.

Peserta studi tiru bersama tim CMC Tiga Warna mengunjungi salah satu destinasi wisata CMC, sekaligus melihat langsung pengelolaan kawasan pesisir berbasis konservasi dan

Pelayanan Wisatawan Juga Menjadi Bagian Penting

Sementara itu, Dadang dari kelompok Sahabat Mangrove dan Laut (SALAMA) Desa Lalombi menyoroti pentingnya pelayanan kepada wisatawan. Menurutnya, pengalaman di CMC menunjukkan bahwa wisatawan tidak hanya membutuhkan tempat yang indah, tetapi juga pengalaman yang baik selama berada di kawasan.

“Kita belajar bahwa wisatawan perlu diarahkan, diberi informasi, dan dilayani dengan baik. Pemandu juga punya peran penting untuk menjelaskan kawasan dan aturan yang harus dipatuhi. Seluruh SOP-nya juga dijalankan dengan baik,” katanya.

Pembelajaran tersebut memperlihatkan bahwa pemandu memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar mengantar wisatawan. Pemandu dapat menjadi penghubung antara wisatawan dengan lingkungan, masyarakat, dan nilai-nilai budaya yang ada di kawasan. Dalam pembelajaran CMC, pemandu juga diposisikan sebagai penjaga budaya dan teman belajar bagi wisatawan.

Belajar dari CMC, Dua Desa di Donggala Dorong Wisata yang Lestarikan Alam dan Sejahterakan Masyarakat

Kelembagaan Menjadi Fondasi

Salah satu pembelajaran terbesar dari CMC Tiga Warna adalah pentingnya membangun kelembagaan sebelum mengembangkan destinasi secara lebih luas.

CMC memiliki struktur kelembagaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan, termasuk kelompok masyarakat, Pokdarwis, Pokmaswas, KTH, karang taruna, pemerintah, serta berbagai pihak lainnya.

Model tersebut menjadi referensi penting bagi peserta dari Lalombi dan Tolongano. Bagi pemerintah desa, pengembangan ekowisata membutuhkan pembagian peran yang jelas antara pemerintah desa, kelompok pengelola, masyarakat, dan pihak lain yang akan terlibat.

Proses pembelajaran tidak berhenti pada melihat praktik di lapangan. Peserta juga melakukan diskusi dan pertukaran pengalaman dengan pengelola CMC mengenai tantangan, peluang, strategi, dan faktor keberhasilan dalam mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat.

Peserta studi tiru menyimak dengan serius pemaparan mengenai pengelolaan ekowisata berbasis konservasi dan masyarakat di CMC Tiga Warna.

Keberhasilan CMC Dibangun Melalui Proses Panjang

Peserta juga mendapatkan gambaran bahwa keberhasilan CMC Tiga Warna tidak dibangun dalam waktu singkat. Kawasan tersebut memiliki sejarah gerakan konservasi yang berkembang secara bertahap. Materi pembelajaran CMC mencatat perjalanan gerakan konservasi mulai dari periode 2005–2011, pembentukan Pokmaswas pada 2012, Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru pada 2016, hingga KTH Bhakti Alam Lestari pada 2018.

Perjalanan tersebut menjadi pelajaran penting bagi peserta dari Donggala bahwa pengembangan ekowisata membutuhkan proses panjang. Pengelolaan wisata tidak dapat hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Ia perlu dibangun dari kesadaran, komitmen, kelembagaan, legalitas, tata kelola, hingga pengembangan sumber daya manusia.

CMC sendiri mengusung visi “Hidup Sejahtera di Alam yang Lestari” dan mendorong masyarakat untuk terlibat dalam rehabilitasi kawasan pesisir serta membangun kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab melalui pariwisata, kehutanan, dan perikanan berkelanjutan.

Peserta studi tiru menyimak dengan serius pemaparan mengenai pengelolaan ekowisata berbasis konservasi dan masyarakat di CMC Tiga Warna. 

Alam Lestari, Masyarakat Berdaya, Ekonomi Tumbuh

Bagi YKL Indonesia, pembelajaran dari CMC Tiga Warna menjadi salah satu modal pengetahuan untuk mendukung inisiasi pengembangan ekowisata mangrove di Desa Lalombi dan Desa Tolongano.

Kedua desa tidak diarahkan untuk menyalin model CMC secara keseluruhan. Sebaliknya, pengalaman tersebut diharapkan menjadi referensi untuk menemukan model pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing desa.

Nirwan mengatakan, ekowisata pada akhirnya harus mampu mempertemukan tiga kepentingan: alam yang tetap lestari, masyarakat yang semakin kuat, dan ekonomi lokal yang berkembang.

“Kalau hanya mengejar ekonomi, lingkungan bisa rusak. Kalau hanya bicara konservasi tetapi masyarakat tidak mendapatkan manfaat, keberlanjutannya juga akan menjadi tantangan. Karena itu, kita harus mencari titik keseimbangan,” katanya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan studi tiru, yakni mendorong adopsi praktik-praktik baik yang sesuai dengan kondisi lokal sebagai dasar pengembangan ekowisata mangrove yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Peserta studi tiru bersama tim CMC Tiga Warna berfoto bersama di depan sekretariat CMC Tiga Warna setelah mengikuti rangkaian pembelajaran pengelolaan ekowisata

Membawa Pulang Pembelajaran, Menyiapkan Langkah Nyata

Studi tiru di CMC Tiga Warna diharapkan tidak berhenti sebagai perjalanan belajar. Setelah kembali ke Donggala, peserta diharapkan dapat menerjemahkan berbagai pembelajaran tersebut menjadi langkah konkret untuk Desa Lalombi dan Desa Tolongano.

Beberapa hal yang menjadi perhatian antara lain penguatan kelembagaan pengelola, penyusunan aturan pengelolaan kawasan, identifikasi potensi wisata, pengembangan produk lokal, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelayanan wisatawan, serta penyusunan paket wisata sesuai dengan potensi masing-masing desa.

Dokumen kegiatan menempatkan penyusunan rencana tindak lanjut sebagai salah satu hasil yang diharapkan. Selain itu, kegiatan diarahkan untuk mengidentifikasi produk unggulan dan paket wisata berbasis potensi lokal serta membangun jejaring antara kelompok pengelola ekowisata di Donggala dan pengelola CMC Tiga Warna.

Bagi peserta, perjalanan ke Malang bukan sekadar kunjungan untuk melihat destinasi wisata yang telah berkembang. Lebih jauh, perjalanan ini menjadi ruang belajar untuk melihat bagaimana konservasi dapat berjalan bersama pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal.

Dari pengalaman Saptoyo dan tim CMC Tiga Warna, peserta belajar bahwa membangun wisata berbasis alam membutuhkan kesabaran dan proses panjang. Dari kunjungan langsung ke berbagai destinasi, mereka melihat bagaimana aturan, SOP, kelembagaan, pelayanan, konservasi, dan aktivitas ekonomi diterapkan secara nyata.

Kini, Desa Lalombi dan Desa Tolongano memiliki pekerjaan lanjutan: membawa pulang pengetahuan tersebut, memilah praktik yang sesuai, dan mulai membangun model ekowisata yang lahir dari potensi serta kekuatan masyarakatnya sendiri.

Pengembangan wisata ke depan diharapkan tidak hanya menjadikan mangrove, laguna, pantai, dan potensi pesisir sebagai objek wisata, tetapi menjadikannya sebagai ruang hidup yang dijaga bersama.

Sebab, keberhasilan ekowisata bukan semata-mata diukur dari seberapa banyak wisatawan yang datang. Lebih penting dari itu adalah seberapa lama alam tetap terjaga, seberapa kuat masyarakat terlibat, dan seberapa besar manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat secara berkelanjutan.

 

Tentang Program SOLUSI

Melalui Program SOLUSI, YKL Indonesia dan Yayasan Bonebula Donggala sebagai mitra Yayasan KEHATI dalam konsorsium SOLUSI terus mendorong penguatan kapasitas masyarakat, perlindungan keanekaragaman hayati pesisir, dan pengelolaan ekosistem mangrove berbasis komunitas di Kabupaten Donggala.

SOLUSI merupakan kemitraan antara Pemerintah Indonesia melalui BAPPENAS dan Pemerintah Jerman melalui Inisiatif Iklim Internasional (IKI) yang diimplementasikan oleh konsorsium untuk merespons degradasi lahan dan bentang laut di Indonesia, memperkuat ketahanan ekosistem, serta mendorong penghidupan masyarakat yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Studi tiru ekowisata ini menjadi salah satu bagian dari proses tersebut, yakni memperkuat kapasitas masyarakat agar potensi pesisir tidak hanya dilihat sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dijaga bersama untuk generasi yang akan datang.

Berita Terkait

Scroll to top