Dari Olahan Hasil Laut, Perempuan Pulau Langkai Perkuat Ekonomi Keluarga

MAKASSAR — Dari hasil laut yang tersedia di sekitar tempat tinggal, perempuan Pulau Langkai, Kota Makassar, mengembangkan usaha olahan pangan untuk menambah pendapatan keluarga. Melalui Program Ewaki (Penguatan Wirausaha Perempuan Langkai), mereka belajar mengolah hasil perikanan, mengelola keuangan kelompok, mengurus legalitas usaha, hingga memasarkan produk kepada konsumen.

Program yang dijalankan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dengan dukungan Direct Aid Program (DAP) – Konsulat Jenderal Australia di Makassar ini berlangsung pada Februari–Juli 2024. Sebanyak 20 perempuan yang tergabung dalam Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) Merpati Putih dan Cahaya Rembulan terlibat dalam rangkaian pelatihan dan pendampingan usaha.

Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, menekankan pentingnya penguatan kapasitas perempuan pesisir agar potensi sumber daya lokal dapat memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.

“Perempuan pesisir memiliki peran penting dalam memperkuat ekonomi rumah tangga. Melalui Ewaki, kami ingin mendukung mereka agar tidak hanya memiliki keterampilan mengolah hasil laut, tetapi juga mampu mengelola usaha, membangun jejaring, dan melihat peluang pasar. Harapannya, inisiatif ini dapat terus berkembang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat Pulau Langkai,” ujar Nirwan.

Ketua Kelompok Poklahsar Merpati Putih, Nurjannah, memperlihatkan kartu e-KUSUKA sebagai identitas pelaku usaha perikanan yang telah terdaftar dalam sistem Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Dari Keterampilan Mengolah hingga Mengelola Usaha

Selama program berlangsung, kelompok perempuan menghasilkan tiga jenis produk, yaitu abon ikan, sambal gurita, dan nugget gurita. Dalam prosesnya, mereka juga belajar mengenai kelembagaan kelompok, literasi keuangan, pengemasan, pemasaran, serta pemenuhan persyaratan legalitas produk.

Pendampingan tersebut menghasilkan dua Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk kelompok usaha. Sebanyak 26 anggota juga telah terdaftar dalam sistem e-KUSUKA sebagai pelaku usaha perikanan. Selain itu, abon ikan dan sambal gurita memperoleh nomor izin Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT).

Adi Zulkarnaen, fasilitator Program Ewaki dari YKL Indonesia, melihat bahwa pengembangan usaha membutuhkan proses belajar yang berkelanjutan, mulai dari produksi hingga pemasaran.

“Dalam mendampingi kelompok, kami belajar bahwa keterampilan produksi perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola keuangan, menjaga kualitas produk, dan membangun strategi pemasaran. Proses ini penting agar kelompok memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menjalankan usahanya secara berkelanjutan,” jelas Adi.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan pemasaran. Upaya menjajaki toko oleh-oleh di Makassar belum membuahkan penerimaan produk baru karena kondisi pasar yang kurang mendukung. Pemasaran melalui media sosial juga membutuhkan konsistensi dan strategi untuk menjangkau konsumen.

Adi Zulkarnaen, fasilitator Program Ewaki dari YKL Indonesia, menyerahkan kartu e-KUSUKA kepada perwakilan kelompok perempuan Pulau Langkai sebagai bagian dari dukungan penguatan legalitas dan pendataan pelaku usaha perikanan.

Penjualan Produk dan Tambahan Pendapatan Keluarga

Meski menghadapi tantangan, kelompok perempuan mulai memasarkan produk yang dihasilkan. Selama program, sebanyak 604 produk terjual, terdiri atas 338 kemasan abon ikan dan 266 kemasan sambal gurita. Penjualan tersebut menghasilkan omzet sebesar Rp13,1 juta.

Dari hasil penjualan, sebagian pendapatan dialokasikan untuk biaya produksi dan simpanan kelompok. Berdasarkan perhitungan dalam laporan akhir program, pendapatan tambahan anggota dari usaha tersebut rata-rata mencapai Rp377.500 per orang selama periode program.

Nirma, perwakilan perempuan pelaku usaha di Pulau Langkai, menggambarkan pentingnya kesempatan belajar dan mengembangkan usaha bagi perempuan pesisir.

“Melalui program ini, kami mendapat pengalaman baru dalam mengolah hasil laut menjadi produk yang memiliki nilai jual. Kami juga belajar bahwa menjalankan usaha membutuhkan kerja sama, pencatatan keuangan, dan upaya untuk terus mencari pembeli. Kami berharap usaha ini bisa terus berjalan dan  menambah pendapatan keluarga,” ujar Nirma.

Pandangan serupa disampaikan Nurjannah, perwakilan kelompok usaha perempuan Pulau Langkai.

“Bagi kami, mengembangkan usaha bersama menjadi kesempatan untuk belajar dan saling mendukung. Kami ingin produk yang dibuat kelompok bisa semakin dikenal, sehingga usaha ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi anggota kelompok,” ungkap Nurjannah.

Hingga akhir Juli 2024, mencatat adanya peningkatan pendapatan rumah tangga rata-rata sebesar 25,66%, dari Rp1.500.000 sebelum program menjadi Rp1.877.500 pada akhir program. Capaian ini menunjukkan kontribusi usaha olahan hasil laut terhadap pendapatan keluarga peserta selama periode pendampingan.

Anggota kelompok perempuan Pulau Langkai melakukan proses pemotongan dan pengolahan gurita sebagai bahan baku produk olahan dalam Program Ewaki.

Melanjutkan Usaha dan Memperluas Peluang

Program Ewaki juga memperluas jejaring YKL Indonesia dengan pihak-pihak yang berpotensi mendukung pengembangan UMKM, termasuk Dinas Koperasi dan UMKM Kota Makassar melalui Inkubator UMKM. Jejaring ini menjadi salah satu peluang untuk menjajaki pendampingan dan akses informasi pembinaan usaha bagi kelompok perempuan Pulau Langkai.

Ke depan, keberlanjutan usaha akan bergantung pada kemampuan kelompok menjaga kualitas produk, mengelola keuangan, memperkuat promosi, serta menemukan saluran pemasaran yang sesuai. Tantangan tersebut menjadi bagian dari proses kelompok dalam membangun usaha berbasis potensi lokal.

Melalui Ewaki, YKL Indonesia mendorong penguatan peran perempuan dalam ekonomi pesisir. Pengalaman di Pulau Langkai memperlihatkan bagaimana pendampingan usaha dapat membuka ruang belajar, kerja sama, dan peluang bagi perempuan untuk berkontribusi lebih besar terhadap kesejahteraan keluarga.

Nugget gurita merupakan salah satu produk olahan yang dikembangkan oleh Poklahsar Merpati Putih dan Poklahsar Cahaya Rembulan di Pulau Langkai

Berita Terkait

Scroll to top