MAKASSAR— Memperluas pemasaran produk olahan hasil laut membutuhkan lebih dari sekadar kualitas produk. Pelaku usaha juga perlu memahami standar pasar, membangun kemitraan, dan menemukan saluran penjualan yang sesuai.
Hal ini dipelajari delapan perempuan dari Poklahsar Merpati Putih dan Poklahsar Cahaya Rembulan, Pulau Langkai, melalui kunjungan pasar di Kota Makassar pada 29–30 Juli 2024. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Ewaki yang dijalankan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dengan dukungan Direct Aid Program (DAP) – Konsulat Jenderal Australia di Makassar.
Di Toko Oleh-Oleh Khas Makassar dan Toko Unggul di Jalan Pattimura, peserta mempelajari standar pemilihan dan penataan produk, kualitas, kemasan, serta persyaratan legalitas, termasuk izin Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) dan label halal.
Kedua toko belum dapat menerima produk baru saat itu karena kondisi pasar yang belum stabil dan penurunan penjualan sepanjang 2024. Situasi ini memberi peserta gambaran bahwa memasuki pasar oleh-oleh juga dipengaruhi oleh kondisi usaha dan permintaan konsumen.
“Melalui kunjungan pasar ini, kami mendapat gambaran yang lebih jelas tentang apa yang perlu disiapkan agar produk olahan hasil laut dari Pulau Langkai bisa diterima pasar. Ternyata, rasa yang enak saja belum cukup. Kami juga perlu memperhatikan kemasan, kualitas produk, dan kelengkapan izin usaha,” ujar Nirma, perwakilan kelompok perempuan pelaku usaha olahan hasil laut dari Pulau Langkai.

Membuka Peluang Kerja Sama
Penjajakan pasar dilanjutkan dengan kunjungan ke Koperasi Fatima Az-Zahrah. Di sana, peserta mempelajari pengembangan usaha berbasis komunitas, strategi pemasaran awal, dan peluang kolaborasi. Koperasi tersebut menyatakan kesediaannya untuk membantu memasarkan produk olahan hasil laut dari kelompok perempuan Pulau Langkai.
Peserta juga mengikuti talkshow tentang penguatan produk hasil perikanan bersama narasumber dari Dinas Koperasi dan UMKM Kota Makassar serta perwakilan sektor industri dan pembiayaan. Diskusi membahas inovasi produk, pemasaran, akses pembiayaan, dan dukungan teknis pemerintah bagi pelaku usaha.
Bagi Nirma, pembelajaran tersebut memperkuat pemahaman bahwa kelompok perlu mencari berbagai jalur untuk memasarkan produknya.
“Kami memahami bahwa memasarkan produk tidak selalu mudah. Ketika toko belum bisa menerima produk baru, kami perlu mencari peluang lain dan tidak berhenti mencoba. Salah satunya dengan memperluas promosi melalui media sosial dan membangun kerja sama dengan pihak yang bersedia membantu memasarkan produk kami,” ungkap Nirma.
Adi Zulkarnaen dari YKL Indonesia menekankan pentingnya memperkuat kapasitas usaha perempuan pesisir secara menyeluruh.
“Penguatan usaha perempuan pesisir tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengolah hasil laut, tetapi juga bagaimana mereka memahami pasar, membangun jejaring, dan menyusun strategi pemasaran. Kami berharap pembelajaran ini dapat membantu kelompok usaha perempuan di Pulau Langkai mengembangkan usahanya secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan pasar,” ujar Adi Zulkarnaen.
Kunjungan pasar ini menjadi bagian dari pendampingan YKL Indonesia melalui Program Ewaki untuk membantu kelompok perempuan Pulau Langkai mengenali tantangan pemasaran dan menjajaki peluang pengembangan usaha olahan hasil laut.