Aksi Tanam Mangrove “Save Our Greenbelt” di Salodong Makassar

MAKASSAR – Sebagai salah satu ekosistem utama di wilayah pesisir dan laut, diperkirakan terdapat 15,9 juta ha hutan mangrove di seluruh dunia dan sekitar 27 % atau 2,3 juta ha berada di Indonesia, dimana ekosistem ini memiliki berbagai fungsi ekologis maupun ekonomis. Secara ekologis, hutan mangrove berfungsi sebagai daerah pemijahan (spawning ground) dan daerah pembesaran (nursery ground) berbagai jenis biota laut.

Selain itu, serasah mangrove yang jatuh keperairan menjadi sumber pakan biota perairan dan unsur hara yang sangat menentukan produktifitas perairan disekitarnya. Secara ekonomi, hutan mangrove dapat dimanfaatkan kayunya sebagai bahan bangunan, arang dan bahan baku kertas. Selain itu, areal hutan mangrove dapat dimanfaatkan untuk peternakan lebah madu, ekoturisme dan kegiatan–kegiatan ekonomi produktif lainnya.

Dilatarbelakangi oleh fungsi-fungsi tersebut, dibulan Januari 2002 YKL Indonesia bekerjasama Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) Kota Makassar melaksanakan program Rehabilitasi Jalur Hijau Hutan Mangrove. Lokasi penanaman mangrove ini di pemukiman nelayan Salodong ORW I dan ORW II Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Keberadaan pemukiman nelayan Salodong sebagai daerah yang berbatasan dengan laut/pesisir dimana daerah pantainya rentan terhadap hempasan gelombang yang mengakibatkan terjadinya abrasi pada sekitar pantai sehingga perlu ada kegiatan khusus untuk mengantisipasi akibat kerusakan tersebut.

Kehidupan masyarakat permukiman nelayan sebagai masyarakat yang berpenghasilan dari kegiatan kenelayanan juga dapat ditingkatkan dengan penanaman atau penambahan luasan mangrove yang bisa dijadikan sebagai tempat pembesaran ikan untuk daerah pembiakan. Meningkatkan hasil dari memancing dan menangkap kepiting pada sekitar daerah tumbuhnya mangrove.

Pemilihan permukiman nelayan Salodong sebagai tempat penanaman mangrove, karena habitat mangrove sudah berkurang akibat kegiatan pembukaan lahan untuk pertambakan dan terdapatnya luasan potensi yang bisa ditanami mangrove.

Program ini bertujuan antara lain untuk menjaga abrasi pantai, intrusi air laut, banjir, kegiatan budidaya di belakangnya, menjaga kelestarian flora dan fauna serta menjadi tempat mencari makan berbagai biota perairan dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Disamping itu untuk menciptakan terwujudnya usaha pembangunan yang berkelanjutan. Sasaran dari penanaman dan penghijauan mangrove Pemukiman Nelayan Salodong Kelurahan Untia, Kota Makassar adalah merupakan upaya untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan pantai sebagai daerah penyangga (buffer zone) antara wilayah daratan dan wilayah lautan.

Aksi Tanam Mangrove Save Our Greenbelt di Salodong Kota Makassar

Kegiatan ini secara keseluruhan berhasil menanami areal mangrove seluas kurang lebih 5 ha dan jenis yang cocok untuk penanaman adalah jenis Rhizopora sp. Mengingat kondisi arus dan ombak pada daerah penanaman maka sistem penanaman yang cocok adalah menanam buah (propagule), agar pengaruh hempasan ombak dan arus pasang surut pada daerah penanaman tidak banyak mempengaruhi tingkat keberhasilan pertumbuhan.

Kemampuan bibit dengan menanam buah daya tahan terhadap ombak, sangat baik dibanding dengan menggunakan polibag karena menanam langsung buah lebih fleksibel, dimana pohon mangrove dapat mengikuti gerakan ombak. Pada umumnya kondisi mangrove yang telah ada dan tumbuh dalam kondisi yang kurang begitu baik, hal ini di tandai dengan mangrove tumbuh dengan jarak yang berjauhan dan nampak patahan dahan bekas penebangan mangrove tersebut, dengan dominasi oleh vegetasi Avicenia sp serta beberapa jenis Rhizopora sp membentuk koloni sendiri dalam jumlah yang relatif kecil.

Mendominasinya jenis mangrove Avicenia sp di lokasi ini karena letaknya yang jauh dari muara sungai, dan juga diketahui bahwa Avicenia adalah tumbuhan perintis, yang mana disamping kemampuan hidupnya yang berada pada kisaran salinitas rendah juga sistem perakarannya lebih mampu menstabilkan substrat di bandingkan jenis mangrove yang lain, sedangkan jenis mangrove lain seperti Rhizopora sp terdapat dalam jumlah yang sedikit dan dengan ukuran pertumbuhan batang yang masih muda, nampak tumbuh dengan subur di sela- sela mangrove jenis Avicenia sp.

Kurang banyaknya terlihat jenis Rhizopora sp yang ada tumbuh juga disebabkan karena lebih banyak yang ditebang untuk membuka lahan tambak jalur masuk kapal dan aktivitas masyarakat lainnya, dibandingkan akibat faktor alam lainnya.

Jenis mangrove yang ditanam adalah Rizhopora, sp. Jarak tanam untuk kepentingan jalur hijau (green belt) adalah 2X2 untuk setiap hektar memuat 2500 bibit secara keseluruhan bibit untuk penanaman luasan 5 ha adalah 12.500.

Mangrove dapat hidup pada oksigen rendah karena mangrove dapat memiliki akar–akar sebagian besar berada diatas tanah agar bisa langsung menyerap oksigen dari udara. Bibit yang ditanam adalah bibit yang telah jatuh dan tumbuh di sekitar induk pohon mangrove.

Dengan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak perubahan positif pada masyarakat pemukiman nelayan Salodong dan kelestarian keanekaragaman hayati sekitar perairan Pemukiman Nelayan Salodong dapat di pertahanakan dan ditingkatkan.

Kegiatan ini melibatkan masyarakat Desa Salodong, mahasiswa UNHAS, instansi terkait dan volunteer dari YKL Indonesia

Berita Terkait

Scroll to top