DONGGALA – Upaya pelestarian penyu tidak hanya membutuhkan perlindungan habitat dan penegakan aturan, tetapi juga keterlibatan aktif masyarakat yang hidup berdampingan dengan spesies tersebut.
Berangkat dari semangat tersebut, Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia bersama Yayasan Bonebula melalui Program SOLUSI menyelenggarakan Pelatihan Pemantauan dan Peningkatan Kapasitas Kelompok Pemantau Spesies Penyu di Desa Lalombi, Kabupaten Donggala, pada 12–13 Februari 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem perlindungan penyu berbasis masyarakat yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Sebanyak 19 peserta terlibat aktif dalam pelatihan yang difokuskan pada peningkatan pengetahuan, keterampilan teknis, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga populasi penyu dan habitatnya.
Desa Lalombi merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki keterkaitan erat dengan habitat penyu. Namun, sebagaimana banyak wilayah pesisir lainnya, pemanfaatan telur penyu dan minimnya sistem pemantauan berbasis data masih menjadi tantangan dalam upaya konservasi. Oleh karena itu, pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu berperan sebagai pelaku utama dalam pemantauan dan perlindungan penyu di tingkat lokal.
Peserta yang berasal dari Kelompok Sahabat Laut dan Mangrove (SALAMA) serta masyarakat setempat mendapatkan berbagai materi mengenai biologi penyu, status konservasi, habitat peneluran, ancaman yang dihadapi penyu, teknik penanganan sarang dan telur, hingga metode pemantauan dan pencatatan data lapangan. Seluruh rangkaian pelatihan difasilitasi oleh narasumber ahli penyu dari WWF Indonesia yang berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam konservasi penyu berbasis masyarakat.
Tidak hanya berlangsung di dalam kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan untuk memahami secara langsung teknik pemantauan penyu. Kegiatan ini meliputi identifikasi spesies, pencatatan jumlah sarang dan telur, pengukuran parameter dasar, simulasi pengumpulan data, hingga penyusunan laporan sederhana. Melalui pendekatan partisipatif tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis tetapi juga keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara langsung di lapangan.

Menurut Andi Muhammad Subhan, Program Officer SOLUSI YKL Indonesia, keberhasilan konservasi penyu sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat penyu.
“Konservasi penyu tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan perlindungan semata. Masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat penyu harus menjadi bagian dari solusi. Melalui pelatihan ini, kami ingin membangun kapasitas masyarakat agar mampu melakukan pemantauan secara mandiri, menghasilkan data yang dapat digunakan untuk pengelolaan, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga penyu dan habitatnya,” ujar Subhan.
Pelaksanaan pelatihan juga dilengkapi dengan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil evaluasi menunjukkan dampak yang cukup signifikan. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 7,17 pada pre-test menjadi 9,28 pada post-test. Sebagian besar peserta mengalami peningkatan nilai antara satu hingga lima poin, menunjukkan bahwa materi dan metode pembelajaran yang digunakan mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai konservasi penyu dan teknik pemantauan berbasis masyarakat.
Namun, capaian pelatihan ini tidak hanya tercermin dari angka-angka hasil evaluasi. Perubahan cara pandang dan perilaku masyarakat menjadi hasil yang tidak kalah penting. Salah satu peserta, Arwin, mengaku pelatihan ini telah mengubah pandangannya terhadap penyu.
“Pelatihan ini mengubah pemikiran saya tentang penyu. Dulu saya pemburu dan ambil telur penyu, tetapi sekarang saya paham kalau penyu itu penting di laut. Kini saya ikut menjaga dan mengajak masyarakat untuk melindungi penyu agar tetap lestari,” ungkap Arwin.
Kesadaran baru juga dirasakan oleh Lilian, peserta lainnya yang sebelumnya belum memahami peran penting penyu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
“Sebelum ikut pelatihan ini, setau saya penyu hewan laut biasa saja. Ternyata punya manfaat sangat besar menjaga kesehatan laut. Setelah banyak belajar, jadi lebih paham pentingnya melindungi penyu dan berharap banyak masyarakat yang ikut peduli,” kata Lilian.
Testimoni peserta tersebut menunjukkan bahwa pendekatan edukatif dan partisipatif mampu mendorong perubahan perilaku yang lebih efektif dibandingkan pendekatan yang hanya menekankan larangan atau pengawasan. Dengan memahami fungsi ekologis penyu dan ancaman yang dihadapinya, masyarakat mulai melihat bahwa perlindungan penyu bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau organisasi konservasi, melainkan tanggung jawab bersama.
Selain meningkatkan kapasitas individu, kegiatan ini juga menjadi fondasi awal terbentuknya kelompok pemantau penyu berbasis masyarakat yang memiliki kemampuan dalam identifikasi spesies, pengumpulan dan pencatatan data, analisis sederhana, serta penyusunan laporan pemantauan. Ke depan, kelompok ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak konservasi penyu di Desa Lalombi sekaligus menghasilkan data yang dapat mendukung penyusunan kebijakan dan aturan perlindungan penyu di tingkat desa.
Melalui Program SOLUSI, YKL Indonesia dan Yayasan Bonebula sebagai mitra Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) terus mendorong penguatan kapasitas masyarakat pesisir sebagai garda terdepan dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem pesisir. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan sistem konservasi yang tidak hanya efektif, tetapi juga berkelanjutan karena didukung oleh masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan komitmen untuk melindungi penyu di habitat alaminya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program SOLUSI (Solusi Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia) yang didukung oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) sebagai salah satu anggota konsorsium SOLUSI. Program ini bertujuan memperkuat pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas masyarakat, perlindungan keanekaragaman hayati, serta penguatan tata kelola ekosistem darat dan pesisir.
SOLUSI merupakan kemitraan antara pemerintah Indonesia (BAPPENAS) dan pemerintah Jerman (BMUKN) melalui Inisiatif Iklim Internasional (IKI) yang diimplementasikan secara bersama oleh konsorsium untuk menangani degradasi lahan dan bentang laut di Indonesia, dengan meningkatkan ketahanan ekosistem, serta mata pencaharian yang dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim.