Membangun Pondasi Implementasi Pengelolaan Perikanan Gurita Berbasis Masyarakat di Pulau Sembilan

MAKASSAR – Keberhasilan sebuah program konservasi tidak hanya ditentukan oleh perencanaan yang baik, tetapi juga oleh kemampuan tim pelaksana memahami masyarakat, membangun kepercayaan, dan menyusun strategi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Berangkat dari pemahaman tersebut, Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia menyelenggarakan Workshop Implementasi Program TFCCA pada 30 April, 1 Mei, dan 8 Mei 2026 sebagai langkah awal mempersiapkan pelaksanaan Program Pengelolaan Perikanan Gurita Berbasis Masyarakat dan Data untuk Mengurangi Tekanan terhadap Terumbu Karang di Calon Kawasan Konservasi Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai.

Berbeda dengan penyusunan rencana kerja pada umumnya, workshop ini diawali dengan proses refleksi terhadap pengalaman pendampingan masyarakat yang telah dilakukan YKL Indonesia di berbagai wilayah. Seluruh anggota tim diajak meninjau kembali pendekatan yang terbukti berhasil, mengidentifikasi tantangan yang pernah dihadapi, hingga merumuskan strategi yang akan menjadi dasar implementasi program selama 15 bulan ke depan.

Fasilitator workshop, Yusran Nurdi Massa, mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menyusun rencana teknis, tetapi juga menggali nilai, prinsip, dan pendekatan yang selama ini menjadi kekuatan YKL Indonesia dalam mendampingi masyarakat.

“Mudah-mudahan dua hari ini adalah pertemuan yang bermakna dan bernilai. Ini menjadi pondasi pelaksanaan TFCCA. Kita ingin mengambil intisari dari pengalaman-pengalaman YKL selama ini, bukan hanya strategi teknis, tetapi juga bagaimana membaur dengan masyarakat, membangun kolaborasi dengan para pihak, dan menerapkannya dalam implementasi program di Pulau Sembilan,” ujar Yusran saat membuka sesi refleksi.

Ia menjelaskan bahwa seluruh pembelajaran dari program-program sebelumnya dianalogikan sebagai sebuah pohon. Tim diminta mengidentifikasi “buah” berupa perubahan yang telah dicapai, “akar” berupa nilai dan prinsip yang dijaga, “batang” sebagai pendekatan dan metode yang digunakan, serta “hama” yang menggambarkan berbagai tantangan selama pendampingan masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan membantu tim merancang strategi implementasi yang lebih adaptif terhadap kondisi Pulau Sembilan.

Dalam sesi penyamaan persepsi, Program Manager YKL Indonesia, Alief Fachrul Raazy, menjelaskan bahwa selama proses penyusunan proposal hingga penilaian oleh TFCCA, pendekatan program mengalami penyempurnaan. Fokus utama program kemudian dipertegas pada pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat dan data sebagai pintu masuk memperkuat tata kelola sumber daya pesisir.

“Kita sepakati bahwa fokusnya di awal adalah perikanannya. Sistem buka-tutup perikanan gurita menjadi pintu masuk untuk membangun tata kelola di Pulau Sembilan. Pendekatan yang kita gunakan berbasis masyarakat dan data sehingga keputusan pengelolaan nantinya benar-benar didukung oleh informasi yang kuat,” jelas Fahri.

Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendukung pengelolaan perikanan gurita, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi tekanan terhadap ekosistem terumbu karang melalui pengambilan keputusan yang didasarkan pada data dan kesepakatan masyarakat.

Selama proses refleksi, peserta mengidentifikasi berbagai perubahan yang telah dihasilkan melalui program-program sebelumnya, seperti meningkatnya kepercayaan diri masyarakat, tumbuhnya individu yang berperan sebagai champion komunitas, meningkatnya keterbukaan terhadap pendidikan, serta semakin kuatnya hubungan antara masyarakat dengan berbagai pemangku kepentingan. Di sisi lain, peserta juga membahas tantangan yang perlu diantisipasi, mulai dari konflik horizontal di tingkat masyarakat, pergantian personel pada instansi pemerintah, hingga pentingnya membangun komunikasi yang konsisten dengan seluruh pihak.

Berbagai pengalaman tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun prinsip-prinsip pendampingan yang akan diterapkan di Pulau Sembilan. Tim menyepakati bahwa membangun kepercayaan harus dimulai dengan memberi ruang yang luas kepada masyarakat untuk menyampaikan pengalaman dan aspirasinya, menghormati nilai serta budaya lokal, menyampaikan informasi program secara terbuka, dan lebih banyak mendengar dibandingkan mengarahkan.

“Kita harus memberi ruang lebar kepada komunitas untuk bicara dan bercerita. Lebih banyak mendengar dulu. Jangan kaku dengan desain program, tetapi realistis dengan kondisi di lapangan. Informasi mengenai rencana program juga harus terbuka sehingga masyarakat mengetahui tujuan, proses, hingga siapa yang mendukung program ini,” kata Yusran saat memandu diskusi mengenai prinsip pendampingan masyarakat.

Pandangan tersebut mendapat tanggapan dari Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, yang menilai bahwa hubungan yang baik dengan masyarakat dibangun melalui manfaat nyata dan keterbukaan sejak awal.

“Menurut saya yang bagus adalah memberikan manfaat yang nyata di awal sesuai kebutuhan masyarakat. Kita hadir di lapangan jangan kaku dengan program, tetapi melihat apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Prinsipnya adalah pengabdian, bukan sekadar menjalankan kegiatan,” ujar Nirwan.

Nirwan juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan agar mereka memahami arah program dan merasa memiliki proses yang sedang dibangun bersama.

“Bukan hanya YKL yang tahu target program, tetapi masyarakat juga harus tahu. Mereka perlu dilibatkan sejak awal agar memahami ke mana program ini akan berjalan,” ungkapnya.

Selama tiga hari pelaksanaan workshop, peserta kemudian menyusun strategi implementasi berdasarkan empat pilar utama Program TFCCA, yaitu Riset dan Monitoring, SETARA (Sekolah Tanpa Ragu), Tata Kelola Lokal, dan Pengelolaan Bersama (Co-management). Setiap kelompok kerja membahas tujuan, strategi pelaksanaan, pembagian peran, para pihak yang akan dilibatkan, hingga tahapan waktu pelaksanaan sebagai pedoman implementasi program di Pulau Sembilan.

Pada pilar Riset dan Monitoring, peserta menyusun strategi pengumpulan data sosial, ekonomi, ekologi, dan perikanan secara partisipatif. Pilar SETARA difokuskan pada penguatan kapasitas masyarakat melalui pembelajaran mengenai ekosistem terumbu karang, perikanan berkelanjutan, spesies yang dilindungi, tata kelola sumber daya, dan kepemimpinan komunitas.

Sementara itu, pilar Tata Kelola Lokal diarahkan pada penguatan kelembagaan masyarakat, pengembangan sistem buka-tutup perikanan gurita, serta penyusunan regulasi yang mendukung pengelolaan sumber daya pesisir. Adapun pilar Pengelolaan Bersama menitikberatkan pada penguatan kolaborasi melalui sosialisasi program, penerapan prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC), mekanisme pengaduan, serta pembentukan forum pengelolaan bersama yang melibatkan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.

Workshop ini menghasilkan dokumen strategi implementasi yang akan menjadi acuan pelaksanaan program di Pulau Sembilan. Lebih dari itu, kegiatan ini juga memperkuat kesamaan persepsi di antara tim pelaksana bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pencapaian target, tetapi juga pada kualitas proses pendampingan, penggunaan data sebagai dasar pengambilan keputusan, serta kemampuan membangun kolaborasi yang setara dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan.

Program ini didanai melalui hibah Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) untuk mendukung konservasi ekosistem terumbu karang melalui pengelolaan perikanan berbasis masyarakat dan data, sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir

Berita Terkait

Scroll to top