Refugia Iklim: Harapan bagi Terumbu Karang di Tengah El Niño 

Penulis: Muhammad Fikri Algifari

Field Facilitator YKL Indonesia

Apa itu El Niño?

Secara sederhana El Niño Adalah fenomena iklim alami yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis yang dikenal sebagai wilayah Nino 3.4 (120° dan 170° Bujur Barat).

Para peneliti menetapkan El Niño terjadi Ketika suhu rata-rata tetap berada lebih dari 0,5°C di atas rata-rata jangka panjang selama lima bulan berturut-turut. Fenomena ini memicu efek domino yang berpengaruh luas terhadap cuaca di seluruh dunia.

Kenapa El Niño terjadi? Ilmuwan atmosfer George Philander dalam sebuah makalah tahun 1999 mengibaratkan seperti sebuah lonceng. Kita tahu bahwa lonceng dapat berbunyi dan bandul dapat berayun, tapi apa yang membuatnya mulai bergerak? “Ini Adalah bentuk osilasi alami.

Tentu saja, lonceng perlu dipukul agar bisa berbunyi.” Setelah hampir 100 tahun penelitian, para ilmuwan masih belum yakin apa yang memicu bunyi lonceng tersebut; mereka hanya tahu bahwa lonceng itu berbunyi.

Yang mengkhawatirkan dari fenomena El Niño saat ini bukanlah sekadar terulangnya siklus alam, melainkan intensitasnya yang cukup tinggi. Anomali suhu permukaan laut dari data yang dipublikasikan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) tercatat sebesar 2.5 °C pada agustus 2026.

Asumsinya jika nilai ini terus berlanjut hingga akhir tahun, fenomena El Niño pada tahun ini merupakan yang tertinggi melebihi rekor sejarah modern dan begitupun di tahun-tahun yang akan datang.

Anomali Suhu Permukaan laut Niño 3.4.

Peluang Terumbu Karang Terhadap El Niño

Ctenactis albitentaculata, potret perubahan kondisi karang dalam satu momen: hidup, bleaching, dan mati.

Secara biologis, terumbu karang hidup dalam batasan suhu yang sangat sempit. Kelangsungan hidup mereka sangat bergantung pada zooxanthellae, alga renik yang menumpang hidup di dalam jaringan tubuh karang dan memberikan 90% kebutuhan energi mereka melalui fotosintesis. Namun, simbiosis ini sangat rapuh.

Ketika suhu air laut mengalami perubahan hanya 2°C pada suhu baku mutu, karang mengalami stres fisiologis. Simbion alga akan keluar dari jaringan karang, menyebabkan karang kehilangan warna (memutih atau bleaching) dan akhirnya mati jika suhu tidak kunjung normal.

Meskipun perbedaan geografis, sejarah evolusi, dan gangguan masa lalu dapat memberikan dampak berbeda terhadap respon pemutihan karang. Secara global anomali frekuensi, intensitas, dan durasi suhu laut yang sangat tinggi beberapa dekade terakhir memicu pemutihan, kematian, dan perubahan struktur komunitas karang pembentuk terumbu.

Berdasarkan Status of Coral Reef of teh World 2025 tutupan karang keras secara global telah mengalami penurunan sebesar 9,5% selama periode 1980–2024. Penurunan ini tidak terlepas dari semakin sering dan parahnya peristiwa pemutihan karang global. Kondisi tersebut menjadi tanda adanya degradasi sistemik pada ekosistem terumbu karang, yang dalam banyak kasus membutuhkan waktu sangat panjang untuk pulih.

Perubahan Tutupan Karang Keras Pada Skala Global Dari Tahun 1980 hingga 2024.

Ancaman terumbu karang sangat kompleks, perubahan iklim merupakan sebagai ancaman dominan yang berkembang pesat. Penyusunan rencana strategis jangka panjang untuk konservasi terumbu karang sangat diperlukan.

Namun, upaya tersebut tidak mudah dilakukan karena masih terdapat ketidakpastian yang cukup besar mengenai bagaimana perubahan iklim akan mempengaruhi kondisi dan keberlanjutan ekosistem terumbu karang di masa mendatang.

Penelitian yang dilakukan Beyer et al., 2018  dalam publikasi berjudul Risk-sensitive planning for conserving coral reefs under rapid climate change mengidentifikasi 50 portofolio global terumbu karang—yang disebut sebagai bioclimatic units (BCUs).

Lokasi-lokasi ini memiliki potensi besar untuk menjadi prioritas investasi konservasi dengan maksud melindungi terumbu karang yang relatif lebih tahan terhadap tekanan lingkungan dan memiliki tingkat konektivitas yang tinggi. Populasi karang di lokasi-lokasi ini dapat berperan sebagai sumber pemulihan bagi kawasan terumbu yang mengalami degradasi ketika kondisi lingkungan kembali mendukung.

Peta 50 bioclimatic units (BCUs).

Di Indonesia, terdapat 14 dari 50 portofolio kawasan terumbu karang yang diprioritaskan secara global (lima di wilayah barat, tujuh di wilayah tengah, dan dua di wilayah timur). Meskipun diidentifikasi sebagai kawasan terumbu yang secara relatif memiliki prospek lebih baik dalam menghadapi perubahan kondisi iklim, tetapi tidak berarti kawasan tersebut terbebas dari risiko pemanasan laut khususnya peristiwa ekstrim seperti El Niño.

Selain itu terumbu karang Indonesia tidak terlepas dari faktor pembatas lain, penelitian yang dilakukan oleh Kuempel et al., 2022 mengidentifikasi Cumulative Human Impact (CHI) di BCUs global, antara tahun 2008 dan 2013, empat BCUs mengalami peningkatan dampak. BCUs dengan peningkatan CHI terbesar terletak di Indonesia (BCUID = 40, ΔCHI = 1,012), Papua Nugini (BCUID = 53, ΔCHI = 0,87), Malaysia, dan Filipina (BCUID = 18, ΔCHI = 0,76). Indonesia bukan negara yang tidak memiliki kapasitas atau komitmen pengelolaan laut, tetapi pada saat yang sama masih menghadapi tekanan laut yang relatif tinggi pada kawasan BCUs-nya. 

BCUs di Indonesia merupakan peluang konservasi yang sangat penting, tetapi tetap membutuhkan pengurangan tekanan lokal agar keunggulan relatif terhadap perubahan iklim tersebut tidak tergerus oleh tekanan antropogenik, oleh karena itu konservasi terumbu karang perlu lebih diperhatikan bukan hanya untuk pemerhati lingkungan, tetapi juga  perlu dapat perhatian pada seluruh pihak.

 

References:

Beyer, H. L., Kennedy, E. V., Beger, M., Chen, C. A., Cinner, J. E., Darling, E. S., Eakin, C. M., Gates, R. D., Heron, S. F., Knowlton, N., Obura, D. O., Palumbi, S. R., Possingham, H. P., Puotinen, M., Runting, R. K., Skirving, W. J., Spalding, M., Wilson, K. A., Wood, S., … HoeghGuldberg, O. (2018). Risksensitive planning for conserving coral reefs under rapid climate change. Conservation Letters, 11(6). https://doi.org/10.1111/conl.12587

González-Rivero, M., Dallison, T., Wicquart, J., Brigdale, A., Logan, M., Fobert, E. K., Staub, F., and Planes, S. (eds.), 2026. Status of Coral Reefs of the World: 2025. Global Coral Reef Monitoring Network and International Coral Reef Initiative. https://doi.org/10.59387/LFPR6347.

Kuempel, C. D., Tulloch, V. J. D., Giffin, A. L., Simmons, B. A., Hagger, V., Phua, C., & HoeghGuldberg, O. (2022). Identifying management opportunities to combat climate, land, and marine threats across less climate exposed coral reefs. Conservation Biology, 36(3). https://doi.org/10.1111/cobi.13856

National Centers for Environmental Information. (2026). El Niño/Southern Oscillation (ENSO): Sea surface temperature. National Oceanic and Atmospheric Administration. https://www.ncei.noaa.gov/access/monitoring/enso/sst

Shlesinger, T., & van Woesik, R. 2023. Oceanic differences in coral-bleaching responses to marine heatwaves. Science of The Total Environment, 871, 162113. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2023.162113

Underwater Earth. (2020). 50 Reefs. https://www.underwater.earth/50-reefs

Berita Terkait

Scroll to top