Bukan Sekadar Menanam Mangrove: SETARA Memperkuat Langkah Menuju Transisi Hijau yang Adil

MAKASSAR – Rehabilitasi mangrove tidak sekadar tentang menanam bibit sebanyak-banyaknya. Memahami kondisi ekosistem, karakteristik habitat, hidrologi, jenis mangrove, hingga berbagai gangguan yang terjadi di suatu kawasan menjadi langkah penting untuk memastikan mangrove dapat tumbuh dan pulih secara alami.

Cara pandang inilah yang dipelajari 20 penggiat lingkungan dalam SETARA Mangrove (Sekolah Tanpa Ragu Mangrove) Seri 1, yang diselenggarakan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia selama tiga hari, 24–26 Juli 2026, di Kota Makassar dan Kabupaten Maros.

SETARA Mangrove merupakan bagian dari program “Penguatan Kepemimpinan Komunitas Pesisir dalam Rehabilitasi Mangrove untuk Transisi Hijau yang Adil dan Inklusif di Kota Makassar”. Melalui program ini, YKL Indonesia memperkuat kapasitas komunitas pesisir agar tidak hanya menjadi pelaksana rehabilitasi, tetapi mampu memahami kondisi ekosistem, menentukan pendekatan yang sesuai, dan mengambil peran dalam pengelolaan mangrove secara partisipatif dan berkelanjutan.

Program ini merupakan bagian dari CO-EVOLVE 2, dengan dukungan pendanaan bersama Uni Eropa dan Yayasan Penabulu. CO-EVOLVE 2 bertujuan memperkuat kapasitas dan peran organisasi masyarakat sipil dalam mendukung transisi hijau yang adil dan inklusif di Indonesia.

SETARA Mangrove

Belajar Mangrove dari Kelas hingga Lapangan

Kegiatan SETARA Mangrove Seri 1 berlangsung di kawasan Mangrove Untia, Kota Makassar, dan kawasan mangrove Kuri Caddi, Kabupaten Maros. Sebanyak 20 peserta mengikuti rangkaian pembelajaran ini setelah melalui proses seleksi dari 51 orang yang mendaftar. Peserta berasal dari berbagai komunitas, organisasi, lembaga, maupun individu pegiat lingkungan di Kota Makassar dan Kabupaten Maros

Sejak hari pertama, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai ekosistem mangrove, tetapi juga diajak merefleksikan perubahan yang terjadi di kawasan pesisir Kota Makassar. Diskusi membahas berbagai tantangan lingkungan pesisir dan menghubungkannya dengan konsep transisi hijau yang adil dan inklusif, termasuk peran mangrove sebagai bagian dari infrastruktur hijau dalam memperkuat ketahanan wilayah pesisir.

Peserta kemudian mempelajari keanekaragaman jenis mangrove, karakteristik habitat, serta manfaat ekosistem mangrove dari aspek ekologis, sosial, ekonomi, iklim, dan perlindungan pesisir.

Field Facilitator YKL Indonesia, Nuryamin, menjadi salah satu fasilitator dalam rangkaian pembelajaran tersebut. Ia mendampingi peserta memahami kompleksitas ekosistem mangrove, termasuk keanekaragaman jenis mangrove dan pentingnya menjaga biodiversitas dalam kegiatan rehabilitasi.

Pembelajaran kemudian di bawa ke lapangan. Di kawasan Kuri Caddi. peserta diajak menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di ruang belajar dengan kondisi nyata ekosistem mangrove.

Hari kedua menjadi kesempatan bagi peserta untuk menguji pengetahuan tersebut. Peserta melakukan praktik transek sepanjang 100 meter untuk mengamati zonasi mangrove, kondisi substrat, hidrologi, serta jenis-jenis mangrove yang tumbuh. Mereka juga melakukan jelajah kawasan untuk mengidentifikasi jenis mangrove, mengamati musim berbuah, dan mengenali berbagai gangguan yang dapat menghambat pertumbuhan alami mangrove.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa setiap kawasan mangrove memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, pendekatan rehabilitasi tidak dapat diseragamkan.

Pembelajaran kemudian dilanjutkan pada hari ketiga dengan materi mengenai berbagai teknik rehabilitasi mangrove di tingkat nasional maupun internasional. Peserta diajak memahami bahwa pilihan teknik rehabilitasi perlu disesuaikan dengan tipologi kawasan, kondisi ekologis dan hidrologis, karakteristik habitat, serta bentuk gangguan yang terjadi.

SETARA Mangrove

“Menanam Bukan Satu-satunya Cara”

Bagi peserta, proses pembelajaran tersebut perlahan mengubah cara pandang mereka terhadap rehabilitasi mangrove.

Irsandi, peserta dari Maritim Muda Nusantara Cabang Makassar, mengatakan bahwa SETARA Mangrove membuatnya memahami bahwa rehabilitasi tidak berhenti setelah bibit ditanam.

“Dengan mengikuti kegiatan SETARA kami menjadi tahu bahwa rehabilitasi mangrove tidak hanya sampai batas menanam saja namun kita harus monitoring sampai tahap lokasi tersebut kembali hijau, dan kami menjadi tahu bahwa tidak setiap lokasi kosong di pesisir bisa ditanami mangrove.”

Pemahaman serupa dirasakan Lisye Marselina Bure. Baginya, konservasi mangrove memiliki pendekatan yang jauh lebih beragam daripada sekadar penanaman.

“3 hari belajar di SETARA, dan satu hal penting yang aku bawa pulang: menanam bukan satu-satunya cara konservasi mangrove. Bahkan bisa saja konservasi dilakukan tanpa menanam sama sekali, karena ada teknik-teknik khusus yang disesuaikan dengan tipologi kawasan mangrove dan gangguan yang dialami kawasan tersebut.”

Pengalaman lapangan juga memperluas pengetahuan peserta mengenai keanekaragaman jenis mangrove. M. Farist Afrianto, peserta dari Ikatan Keluarga Lantebung (IKAL), mengaku sebelumnya hanya mengenal sedikit jenis mangrove.

“Awalnya saya cuman tau 1 jenius mangrove. Setelah saya ikuti sekolah tanpa ragu mangrove ini ternyata masih banyak jenis-jenis mangrove lainnya.”

Sementara itu, Zahra Aulia melihat pengalaman lapangan sebagai salah satu bagian yang membuat proses belajar menjadi lebih berkesan.

“Menarik ketika saya melihat di lapangan; jenis mangrove yang kaya, lumpur yang lumayan pekat dan teman-teman yang menyenangkan. SETARA 1 yang berlangsung tiga hari kembali mempertemukan saya dengan hijau.”

Bagi Raja Ainur Ridho, pengalaman mengikuti SETARA Mangrove tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkuat kepeduliannya terhadap ekosistem pesisir.

“Mengikuti kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga karena saya memperoleh pengetahuan baru sekaligus terlibat langsung dalam aksi nyata di lapangan. Selain menambah wawasan kegiatan ini juga meningkatkan kepedulian saya terhadap pelestarian lingkungan serta pentingnya menjaga ekosistem pesisir bersama-sama.”

SETARA Mangrove

Pembelajaran yang Mengubah Cara Pandang

SETARA Mangrove tidak dirancang sebagai pelatihan satu arah. Peserta terlibat dalam permainan, diskusi kelompok, praktik lapangan, penyusunan sketsa zonasi, presentasi, hingga refleksi bersama.

Pendekatan tersebut membuat proses belajar menjadi lebih interaktif dan memungkinkan peserta menghubungkan materi yang diperoleh dengan pengalaman mereka sendiri.

Munawwarah, peserta dari Nypah Indonesia, menilai metode pembelajaran yang aktif dan tidak kaku membantu materi lebih mudah dipahami.

“Kegiatan ini memberikan ilmu yang sangat berbobot, dikemas dengan cara yang aktif, supportif, dan tidak kaku, sehingga para peserta mudah menyerap ilmu yang diberikan selama 3 hari.”

Hal senada disampaikan Nur Fatimah Awalia Musfi. Selain memperoleh pengetahuan baru mengenai rehabilitasi mangrove, ia juga mendapatkan kesempatan membangun jejaring dengan peserta lain dan tim YKL Indonesia.

“Sangat senang bisa mengikuti kegiatan ini, karena selain menambah wawasan terkait rehabilitasi mangrove, bisa menambah relasi juga dengan teman-teman dan kaka-kaka YKL yang hebat,lucu dan seru.”

Dengan demikian, SETARA Mangrove tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang perjumpaan dan pembentukan jejaring bagi para pegiat lingkungan dari berbagai latar belakang.

hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta. Nilai rata-rata meningkat dari 5,8 pada pre-test menjadi 8,1 pada post-test.

Selain peningkatan pengetahuan, peserta mampu melakukan identifikasi jenis mangrove, memahami pola zonasi, melakukan pengukuran hidrologi sederhana, serta menganalisis kondisi ekosistem berdasarkan hasil pengamatan lapangan.

Pada hari terakhir, peserta juga menggunakan citra Google Earth dan informasi hasil pengamatan lapangan untuk mengidentifikasi lokasi potensial rehabilitasi di Kota Makassar. Mereka menganalisis perubahan tutupan mangrove, karakteristik ekologi dan hidrologi, bentuk gangguan, serta menyusun konsep awal rehabilitasi dan pilihan teknik yang sesuai.

proses tersebut memperkuat kemampuan peserta untuk memahami mengapa suatu tindakan rehabilitasi perlu dilakukan dan bagaimana menyesuaikannya dengan kondisi ekosistem, bukan hanya apa yang harus dilakukan.

Dari Pengetahuan Menuju Aksi

Pembelajaran tidak berhenti pada penutupan kegiatan. Setiap kelompok menyusun rencana aksi awal sebagai dasar untuk pembelajaran berikutnya.

Pada SETARA Seri 2, peserta akan menindaklanjuti desain rehabilitasi yang telah dibuat, memperdalam metode dan teknik yang akan digunakan, serta menentukan area yang akan direhabilitasi.

Melalui SETARA Mangrove, YKL Indonesia berupaya membangun kapasitas komunitas pesisir agar tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan rehabilitasi, tetapi juga mampu memahami, menganalisis, dan menentukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi ekosistem di wilayahnya.

Pada akhirnya, pesan yang dibawa dari tiga hari pembelajaran SETARA Mangrove cukup sederhana:

Memulihkan mangrove bukan sekadar tentang berapa banyak bibit yang ditanam, tetapi tentang seberapa baik kita memahami ekosistem yang hendak dipulihkan.

Dari pemahaman tersebut, komunitas pesisir diharapkan dapat mengambil peran yang lebih kuat dalam menjaga ekosistem sekaligus mendorong transisi hijau yang adil dan inklusif di wilayah pesisir.

 

SETARA Mangrove Seri 1 diselenggarakan oleh Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia sebagai bagian dari program CO-EVOLVE 2, dengan dukungan pendanaan bersama Uni Eropa dan Yayasan Penabulu

 

Disclaimer:

Materi dalam publikasi ini diproduksi oleh Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dengan dukungan bersama dari Uni Eropa dan Yayasan Penabulu. Pendapat/pandangan yang dinyatakan dalam publikasi ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dan bukan mencerminkan pendapat/pandangan Uni Eropa.

.

Berita Terkait

Scroll to top