Jambore Pokmaswas: Sinergi Masyarakat dan Para Pihak untuk Kelestarian Laut

MAKASSAR, – Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dengan dukungan dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) ikut serta mensukseskan kegiatan Jambore Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) se-Sulawesi Selatan yang dilaksanakan di Pulau Lanjukang, Kota Makassar pada 14-16 Oktober 2024.

Kegiatan ini dirangkaikan dengan Hari Jadi Provinsi Sulawesi Selatan ke-354, bekerjasama dengan pemerintah provinsi, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan bersama sejumlah organisasi non-pemerintah (NGO). Acara ini dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari berbagai wilayah, Kota Makassar, Selayar, Takalar dan Pangkajene Kepulauan.

Muhammad Fauzi Rafiq, Koordinator Program Perikanan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia, menyebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas POKMASWAS dalam pengawasan sumber daya laut.

“Kita ingin menciptakan sistem pengawasan yang berbasis masyarakat dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini menjadi wadah untuk berbagi praktik cerdas, mengatasi tantangan, dan merumuskan solusi bersama,” ujar Fauzi.

Dalam pertemuan ini, YKL Indonesia dan Yayasan KEHATI memberikan dukungan kepada Pokmwaswas se-Kecamatan Kepulauaan Sangkarrang hadir dalam kegiatan Jambore tersebut.

“Kegiatan ini sangat membantu kami bagi pokmaswas barrang caddi yang baru diaktifkan. Dengan adanya peningkatan kapasitas dan berjejaring kami bisa mencegah kegiatan” destructive melihat masih seringnya ditemukan aaktivitas destructive disekitaran pulau kami,” ujar Muhammad Handi, sekretaris Pokmaswas Sipakatau, Pulau Barrang Caddi yang hadir dalam Jambore.

Meningkatkan Kapasitas dan Kolaborasi

Jambore Pokmaswas ini memfokuskan dua hal utama: pelatihan teknis pengawasan laut dan sesi berbagi pengalaman antaranggota POKMASWAS. Beberapa materi yang disampaikan dalam pelatihan meliputi peran dan fungsi POKMASWAS, metode pengumpulan informasi, serta pengenalan alat dan sarana monitoring.

“Tujuannya adalah agar anggota pokmaswas tidak hanya memahami tugas mereka, tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut secara masif dan berkelanjutan,” tambah Fauzi.

Selain pelatihan, diskusi informal yang melibatkan POKMASWAS, pemerintah, dan NGO menjadi salah satu sorotan acara. Tantangan seperti lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku destructive fishing hingga kurangnya pemahaman prosedur pelaporan pelanggaran diangkat dalam diskusi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan, Muh. Ilyas, menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kelestarian laut. “Dengan keterbatasan sumber daya, melibatkan masyarakat adalah langkah terbaik. Melalui Jambore ini, kita memulai inisiatif yang kelak dapat diperluas skalanya secara nasional,” ungkap Ilyas.

Diharapkan, kegiatan seperti Jambore Pokmaswas dapat menjadi momentum memperkuat sinergi antara berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian laut Sulawesi Selatan, demi keberlanjutan ekosistem dan penghidupan masyarakat pesisir.

Berita Terkait

Scroll to top