MAKASSAR – Tak bisa disangkal bahwa kondisi pantai Losari di Makassar yang merupakan kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan kini semakin memprihatinkan. Ini dibuktikan dari berbagai penelitian yang telah dilakukan maupun kondisi umum (visual) yang diamati oleh masyarakat.
Degradasi lingkungan berupa tercemarnya kualitas perairan, sedimentasi dan abrasi, reklamasi, maupun berbagai praktek pemanfaatan yang tidak ramah lingkungan merupakan penyebabnya. Ini ditunjang oleh ketiadaan strategi pengelolaan yang terpadu dan berkelanjutan.
Untuk itu YKL menginisiasi pembuatan film dokumenter bertajuk : Pantai Losari, di Persimpangan. Obyek yang ditampilkan dalam film tersebut adalah kondisi obyektif pantai Losari dan sekitarnya serta berbagai aktifitas yang tengah berlangsung.
Film berdurasi sekitar 30 menit ini dimulai dengan pengambilan gambar (shooting), editing, lay out, mixing, maupun dubbing, setelah narasinya siap. Seluruh proses berlangsung sekitar satu bulan, periode Maret – April.
Hasilnya akan ditransfer dan dicopy sejumlah 20 buah dalam bentuk CD dan akan disebarkan kepada berbagai stakeholder. Diharapkan dari film ini akan membangkitkan kesadaran dan pemahaman para pengguna untuk memikirkan dan merancang suatu langkah pengelolaan yang terpadu dan kongkret dalam menyikapi kondisi pantai Losari tersebut.
Selanjutnya, komentar dan tanggapan dari para stakeholder, akan dikompilasi dan digunakan sebagai kerangka acuan untuk menyusun suatu rencana strategis. Dalam mengefektifkan komentar tersebut, YKL dalam waktu dekat akan menyelenggarakan poolling pendapat terbuka mengenai kondisi pantai Losari.
Dalam pembuatannya film dokumenter ini, turut memberikan atensi adalah Bappeda Tk. I Sulawesi Selatan, Pemda Makassar, Bapedal wilayah III, Lembaga Maritim Nusantara (LEMSA), dan Forum Kajian Isu Strategis Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. Demikian inisiator, M. Zulficar Mochtar. (Vicar)