Makassar — Institut Teknologi dan Bisnis Maritim (ITBM) Balik Diwa Makassar resmi menjalin kerja sama dengan Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) ini dilaksanakan pada Rabu, 18 Desember 2024.
Penandatanganan berlangsung sesaat setelah prosesi Wisuda Sarjana & Magister ITBM Balik Diwa Tahun Akademik 2024/2025. Momentum ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik dan organisasi non-pemerintah di sektor kelautan.
Kolaborasi Akademik dan Praktik Lapangan
Kesepakatan tersebut ditandatangani langsung oleh Rektor ITBM Balik Diwa, Dr. Muh. Ikramullah Akmal, S.Sos., M.Si, dan Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, S.Si., M.Ling, di Makassar.
Kerja sama ini berfokus pada kemitraan tridharma perguruan tinggi. Secara khusus, kolaborasi diarahkan untuk pengelolaan pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan.
Selain itu, kerja sama ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia kedua pihak. Di sisi lain, kolaborasi juga memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pada akhirnya, inisiatif ini diharapkan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir, terutama nelayan.

Komitmen Kampus dan Lembaga Konservasi
Adapun ruang lingkup kerja sama mencakup berbagai kegiatan strategis. Misalnya, perkuliahan, pelatihan, praktik lapang, dan penelitian kolaboratif. Selain itu, kedua pihak juga akan menggelar seminar, publikasi ilmiah, serta program pengabdian masyarakat.
Tidak hanya itu, pemanfaatan fasilitas bersama juga menjadi bagian penting dalam kerja sama ini. Dengan demikian, kedua lembaga dapat saling memperkuat kapasitas dan sumber daya.
Rektor ITBM Balik Diwa, Dr. Muh. Ikramullah Akmal, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis.
“Kerja sama ini bukan hanya formalitas, tetapi menjadi ruang kolaborasi nyata antara dunia akademik dan praktik lapangan. Kami ingin memastikan bahwa lulusan ITBM tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu berkontribusi langsung dalam pengelolaan pesisir dan laut yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali, menekankan pentingnya kemitraan lintas sektor.
“Pengelolaan pesisir tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Oleh karena itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti ITBM Balik Diwa menjadi kunci. Ini penting untuk menghubungkan ilmu pengetahuan, riset, dan praktik di lapangan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kerja sama ini membuka ruang pembelajaran bersama.
“Kami melihat ini sebagai investasi jangka panjang. Artinya, kita membangun generasi yang tidak hanya paham laut, tetapi juga memiliki keberpihakan pada keberlanjutan dan keadilan bagi masyarakat pesisir,” tambah Nirwan.

Dampak dan Harapan ke Depan
Kerja sama ini dirancang berlangsung selama empat tahun. Namun demikian, perjanjian dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi bersama.
Selama periode tersebut, kedua pihak akan menjalankan program kolaboratif secara terukur. Fokus utamanya adalah peningkatan kapasitas mahasiswa dan masyarakat. Selain itu, penguatan basis pengetahuan dalam pengelolaan sumber daya pesisir juga menjadi prioritas.
Dengan demikian, penandatanganan MoU ini tidak sekadar seremoni. Sebaliknya, ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjawab tantangan lingkungan dan sosial di wilayah pesisir.
Pada akhirnya, kolaborasi ini diharapkan mampu menjembatani ilmu pengetahuan dan praktik lapangan. Sekaligus, memperkuat upaya konservasi laut berbasis masyarakat di Indonesia.