Penulis
Adi Zulkarnaen | Koordinator Networking YKL Indonesia | Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan UNM
Ada satu pengalaman sederhana ketika kami mendampingi ibu-ibu di Pulau Langkai yang sampai sekarang masih saya ingat. Pengalaman itu bermula dari sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana.
“Tabe bu, kira-kira berapa pengeluaranta setiap bulan?”
Saya kira pertanyaan itu akan segera dijawab. Mungkin ada yang menyebut tiga juta, empat juta, atau lima juta rupiah. Tetapi ternyata tidak.
Mereka diam.
Tidak ada yang secara langsung menyebutkan angka. Ada yang mencoba mengingat, ada yang saling melihat, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar yakin dengan jumlahnya.
Sampai kemudian salah seorang ibu menyelutuk santai,
“Banyak pokoknya” dengan nada bercanda
Kami tertawa.
Namun, setelah itu saya justru mulai berpikir. Mengapa sebuah rumah tangga yang setiap hari mengeluarkan uang tidak mampu menyebutkan berapa sebenarnya pengeluaran mereka dalam satu bulan?
Mungkin karena pengeluaran rumah tangga memang tidak pernah muncul sebagai satu angka. Ia datang sedikit demi sedikit, mengikuti kehidupan sehari-hari. Pagi hari ada kebutuhan dapur. Anak meminta uang jajan. Ada ongkos untuk melaut. Voucher wi-fi. Ada kebutuhan rumah yang tiba-tiba habis. Ada pembayaran rutin. Ada barang yang dibeli dengan cara dicicil.
Semuanya terjadi begitu saja.
Tidak ada satu momen pun ketika seorang ibu mengatakan bahwa hari ini ia akan mengeluarkan sekian rupiah untuk seluruh kebutuhan keluarganya. Uang keluar mengikuti aktivitas kehidupan.
Karena itu, kami kemudian tidak meminta mereka menyebutkan angka.
Kami mengambil beberapa lembar kertas plano, membaginya kepada kelompok-kelompok ibu yang ada di hadapan kami, dan meminta mereka untuk tidak memikirkan uang terlebih dahulu, melainkan mencoba menuliskan aktivitas mereka mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali.
“Tidak usah mki dulu fikir berapa uangta keluar bu! Coba ditulis mki saja, apa yang kita kerja dari mulaita’ bangun pagi sampaita’ tidur lagi, ?”
Mereka kemudian mulai menulis.
Awalnya mungkin masih ragu. Kemudian muncul satu aktivitas, lalu aktivitas berikutnya. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, menyiapkan perlengkapan anak, membeli kebutuhan tertentu, anak meminta uang jajan, kembali ke rumah, memasak, membeli kebutuhan dapur, menggunakan internet, mengurus kebutuhan rumah, sampai akhirnya kembali tidur.
Kertas plano yang semula kosong perlahan-lahan dipenuhi aktivitas.
Kami sengaja meminta mereka memulai dari aktivitas, bukan dari uang. Sebab sering kali kita tidak menyadari bahwa hampir setiap aktivitas ekonomi memiliki konsekuensi ekonomi.
Ketika anak berangkat sekolah, ada biaya yang mengikutinya. Ketika seseorang bepergian melaut, ada ongkos. Ketika rumah menggunakan internet, ada pembayaran. Ketika memasak, ada bahan makanan. Ketika anak meminta jajan, ada uang yang keluar. Ketika sebuah barang dibeli dengan cicilan, ada kewajiban yang akan mengikuti selama beberapa bulan ke depan.
Kehidupan sehari-hari ternyata penuh dengan transaksi ekonomi yang begitu kecil sehingga sering kali tidak kita anggap sebagai pengeluaran.
Setelah daftar aktivitas itu mulai penuh, barulah kami meminta mereka melihat kembali satu per satu.
“Dari kegiatan ta’ ini yang kita tulis, yang mana mengeluarkan uang?”
Di situlah suasananya mulai berubah.
Aktivitas yang tadi terlihat biasa mulai bernilai rupiah.
Pergi menjadi ongkos. Makan menjadi belanja. Kebutuhan anak menjadi pengeluaran. Menggunakan internet menjadi voucher Wi-Fi. Jajan menjadi pengeluaran harian. Barang yang dibawa pulang dengan cicilan ternyata bukan hanya barang, tetapi juga kewajiban yang muncul setiap bulan.
Perlahan, kehidupan sehari-hari yang tadi hanya ditulis sebagai rangkaian aktivitas mulai berubah menjadi peta pengeluaran.
Dan ketika kami mulai menghitungnya, barulah angka itu muncul.
Sebelumnya mereka hanya tahu bahwa pengeluaran mereka “banyak pokoknya”
Sekarang mereka mulai bisa melihat mengapa banyak.

Saya kemudian kembali bertanya tentang pendapatan. Sebagian besar ibu yang kami dampingi merupakan ibu rumah tangga dari keluarga nelayan gurita. Pendapatan utama keluarga berasal dari hasil tangkapan suami. Ketika ditanyakan rata-rata pendapatan per bulan, angka yang muncul sekitar Rp4,5 juta sampai Rp5 juta, yang nilai ini kami dapatkan dari rata-rata pendapatan harian mereka.
Namun, persoalannya mulai berbeda ketika angka pendapatan tersebut dibandingkan dengan pengeluaran.
Dalam beberapa rumah tangga, total pengeluaran yang kami temukan bahkan dapat mendekati Rp8 juta per bulan.
Saya kembali melihat angka tersebut. “Pendapatan Rp4,5 juta sampai Rp5 juta” sedangkan pengeluaran hampir Rp8 juta per bulan.
Ada jarak yang cukup besar.
Pertanyaan yang muncul di kepala saya bukan lagi sekadar mengapa pengeluaran mereka besar. Saya justru mulai bertanya dari mana selisih tersebut ditutup.
Saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa jawabannya adalah utang atau pinjaman. Kami belum memiliki data yang cukup untuk mengatakan demikian. Bisa saja ada pendapatan lain yang belum masuk dalam perhitungan. Bisa saja ada anggota keluarga lain yang turut berkontribusi dalam pendapatan. Bisa saja ada tabungan yang digunakan.
Tetapi kemungkinan penggunaan pinjaman dan cicilan tentu menarik untuk diperhatikan.
Sebab sekarang seseorang tidak harus menunggu memiliki seluruh uang untuk membeli suatu barang. Barang dapat dibeli sekarang dan pembayarannya dilakukan kemudian, sedikit demi sedikit, bulan demi bulan.
Cicilan memudahkan untuk memiliki barang yang mungkin sulit dibeli sekaligus. Namun, pada saat yang sama, ia juga membuat sebagian pendapatan masa depan memiliki tujuan sebelum uang tersebut benar-benar diterima.
Satu cicilan mungkin terasa ringan. Dua cicilan mungkin masih terasa ringan. Namun, ketika beberapa kewajiban berjalan bersamaan, semuanya mulai membentuk beban yang tidak selalu terlihat saat keputusan pembelian pertama kali dibuat.
Di sinilah saya melihat bahwa persoalan pengeluaran rumah tangga tidak sesederhana mengatakan seseorang konsumtif atau tidak konsumtif.
Ada kebutuhan yang memang harus dipenuhi. Ada pula konsumsi yang tumbuh seiring perubahan gaya hidup. Ada barang yang dibeli karena kebutuhan, ada yang dibeli karena keinginan, dan ada pula barang yang akhirnya terasa seperti kebutuhan karena sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh yang muncul dalam percakapan kami adalah voucher Wi-Fi.
Internet mungkin dahulu dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting. Sekarang ia telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Anak membutuhkan internet. Orang tua membutuhkan komunikasi. Informasi dan hiburan juga tersedia melalui internet.
Begitu pula dengan uang jajan anak.
Dalam satu hari, seorang anak dapat meminta jajan beberapa kali. Bahkan ada yang bisa mencapai lima kali sehari.
Tidak ada satu pun dari pengeluaran tersebut yang terlihat luar biasa besar.
Tetapi ketika dilakukan setiap hari, kemudian dikalikan sebulan, angkanya mulai berubah.
Di situlah saya merasa bahwa pengeluaran kecil memiliki karakter yang menarik. Ia tidak terasa ketika terjadi, tetapi terasa ketika dikumpulkan.
Mungkin itulah alasan mengapa ibu-ibu tadi tidak dapat langsung menjawab pertanyaan saya.
Mereka tahu bahwa mereka mengeluarkan uang setiap hari. Mereka hanya belum pernah melihatnya secara utuh sebagai satu kesatuan.
Ada perbedaan antara mengetahui bahwa kita mengeluarkan uang dan mengetahui berapa banyak uang yang sebenarnya kita keluarkan.
Kertas plano tadi perlahan menjadi semacam cermin. Ia memperlihatkan kehidupan ekonomi rumah tangga mereka dalam bentuk yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat.
Ketika seluruh angka akhirnya dijumlahkan, beberapa ibu terlihat terkejut.
Mungkin karena selama ini pengeluaran tersebut tidak pernah hadir dalam bentuk satu angka. Ia hadir sebagai sepuluh ribu rupiah, dua puluh ribu rupiah, lima puluh ribu rupiah, seratus ribu rupiah. Kemudian muncul lagi besok, muncul lagi lusa, sampai akhirnya menjadi jutaan rupiah dalam satu bulan.
Pada titik itulah seorang ibu mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat.
“Ahh, kalau pulangka’ dari sini saya mau pijit bapakna’, ternyata berat sekali kodong bebannya”
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin seperti candaan spontan.
Tetapi bagi saya, justru di situlah inti dari pengalaman tersebut.
Selama ini seorang suami mungkin hanya terlihat sebagai orang yang pergi melaut, mencari gurita, lalu membawa pulang hasil tangkapan. Namun, setelah seluruh pengeluaran keluarga dihitung, terlihat bahwa hasil tangkapan tersebut harus menopang begitu banyak kebutuhan.
Pendapatan yang dibawa pulang ternyata memiliki begitu banyak tujuan.
Ada kebutuhan hari ini. Ada kebutuhan anak. Ada kebutuhan rumah. Ada pengeluaran rutin. Ada kemungkinan cicilan.
Kalimat tentang memijat suami itu bagi saya bukan sekadar candaan. Ia seperti sebuah kesadaran yang muncul secara spontan setelah melihat angka
Ternyata beban ekonomi keluarga sebesar itu.
Saya kemudian berpikir lebih jauh. Jangan-jangan selama ini kita terlalu sering melihat persoalan kesejahteraan masyarakat pesisir hanya dari sisi pendapatan.
Berapa pendapatan nelayan? Berapa hasil tangkapan? Berapa harga gurita? Berapa penghasilan dalam satu bulan? Semua pertanyaan ini penting.
Namun, pengalaman di Langkai membuat saya ingin melihat dari sisi lain. Setelah pendapatan itu masuk ke rumah, apa yang terjadi dengan uang tersebut?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena pendapatan nelayan tidak selalu datang dalam jumlah yang sama.
Ada waktu ketika hasil tangkapan bagus. Ada waktu ketika hasil tangkapan tidak sebaik yang diharapkan. Ada masa ketika laut memberikan pendapatan yang cukup besar, tetapi ada pula masa ketika hasil tangkapan tidak banyak.
Namun kebutuhan rumah tangga tidak ikut pergi bersama naik turunnya hasil tangkapan.
Anak tetap makan.
Kebutuhan rumah tetap berjalan.
Listrik tetap harus dibayar.
Komunikasi tetap dibutuhkan.
Wi-Fi tetap digunakan.
Cicilan tetap datang pada waktunya.
Dengan kata lain, laut dapat memberikan pendapatan yang berfluktuasi, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Karena itu, kemampuan memperoleh pendapatan dan kemampuan mengelola pendapatan sebenarnya adalah dua hal yang berbeda.
Bisa jadi sebuah keluarga memperoleh pendapatan yang cukup besar pada bulan tertentu. Namun, jika seluruh pendapatan tersebut habis untuk konsumsi, cicilan, dan kebutuhan lainnya, keluarga tetap akan menghadapi persoalan ketika pendapatan menurun pada bulan berikutnya.

Mungkin di sinilah kita perlu berbicara lebih serius tentang literasi keuangan masyarakat pesisir.
Literasi keuangan tidak harus dimulai dari hal-hal yang rumit. Ia bisa dimulai dari sebuah kertas plano dan pertanyaan sederhana tentang apa yang dilakukan sejak bangun sampai tertidur.
Ia bisa dimulai dari keberanian untuk mencatat semua pengeluaran, bahkan yang hanya sepuluh ribu rupiah.
Ia bisa dimulai dari kemampuan melihat mana pengeluaran yang benar-benar harus dipenuhi dan mana yang masih bisa ditunda.
Ia juga bisa dimulai dari kemampuan menghitung apakah sebuah cicilan memang mampu ditanggung oleh pendapatan keluarga.
Bagi rumah tangga nelayan, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena pendapatan mereka dihadapkan dengan ketidakpastian.
Ketika pendapatan sedang tinggi, tidak seluruhnya harus diterjemahkan menjadi konsumsi. Ada kebutuhan di masa depan yang perlu dipikirkan. Ada bulan ketika hasil tangkapan mungkin tidak sebaik sebelumnya. Ada kebutuhan pendidikan anak yang akan datang. Ada keadaan darurat yang tidak pernah bisa dipastikan.
Karena itu, literasi keuangan bukan sekadar kemampuan menghemat uang tetapi kemampuan untuk mengatur kehidupan ketika pendapatan tidak selalu pasti.
Dalam konteks ini, perempuan memiliki posisi yang sangat penting.
Ibu rumah tangga sangat dekat dengan aktivitas ekonomi sehari-hari keluarga. Mereka mengetahui kebutuhan dapur, kebutuhan anak, pengeluaran kecil yang muncul setiap hari, serta berbagai kebutuhan lain yang mungkin tidak tercatat dalam perhitungan pendapatan.
Karena itu, pendidikan tentang uang bagi ibu rumah tangga di wilayah pesisir menurut saya bukan sekadar program tambahan. Ia merupakan bagian penting dari pembangunan ekonomi keluarga.
Pentingnya mengubah cara kita memandang literasi ekonomi.
Literasi ekonomi bukan hanya tentang bagaimana memperoleh uang lebih banyak.
Ia juga tentang bagaimana memahami uang yang sudah dimiliki.
Bagaimana membedakan kebutuhan dan keinginan?
Bagaimana membuat prioritas?
Bagaimana mempersiapkan masa ketika pendapatan turun?
Dan bagaimana memastikan bahwa keputusan konsumsi hari ini tidak menjadi beban yang terlalu berat bagi keluarga di masa depan?
Pengalaman di Pulau Langkai membuat saya menyadari bahwa ekonomi ternyata sangat dekat dengan rutinitas sehari-hari.
Ia ada ketika seorang ibu membeli kebutuhan dapur. Ia ada ketika seorang anak meminta jajan. Ia ada ketika voucher Wi-Fi dibeli. Ia ada ketika sebuah barang dibawa pulang dengan cicilan. Ia ada ketika seorang nelayan membawa pulang hasil tangkapan. Dan ia ada ketika seorang ibu duduk di depan kertas plano, mencoba mengingat kembali apa saja yang dilakukan keluarganya sejak pagi sampai malam.
Awalnya mereka hanya bisa mengatakan:
“Banyak pokoknya”
Kemudian angka itu mulai muncul.
Dan ketika semuanya selesai dihitung, mereka menemukan sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak pernah benar-benar mereka lihat.
Ternyata sebesar itu
Mungkin dari situlah literasi ekonomi seharusnya dimulai.
Bukan dari teori yang rumit. Bukan dari istilah yang sulit. Tetapi dari keberanian untuk melihat kehidupan sendiri melalui angka. Sebab bisa jadi pendapatan masyarakat pesisir sebenarnya cukup besar pada waktu-waktu tertentu.
Pada akhirnya, pembangunan ekonomi masyarakat pesisir tidak cukup hanya berbicara tentang bagaimana meningkatkan pendapatan nelayan. Kita juga perlu berbicara tentang bagaimana pendapatan tersebut dikelola di dalam rumah. Sebab kesejahteraan bukan hanya tentang seberapa banyak uang yang masuk. Ia juga tentang seberapa lama uang tersebut mampu menopang kehidupan keluarga.
Di Pulau Langkai, sebuah kegiatan sederhana menghitung pengeluaran membuat saya belajar bahwa terkadang kita baru memahami kondisi ekonomi sebuah keluarga setelah mereka berani melihat seluruh pengeluarannya dalam satu angka.
Sebuah angka yang membuat mereka terdiam.
Sebuah angka yang membuat seorang ibu ingin memijat suaminya.
Sebuah angka yang akhirnya membuat kami semua menyadari:
Ternyata sebesar itu.