Persoalan Sampah dan Anak Muda Kota Makassar di Hari Lingkungan

MAKASSAAR – Pagi itu, Rabu (5/6/2024), langit Kota Makassar cerah. Warna matahari saat baru sebagian muncul di ufuk timur, ratusan anak muda telah berkumpul di Pantai Layar Putih yang berdampingan dengan muara sungai Jeneberang, Kota Makassar.

Mereka berkumpul dalam rangka peringatan hari lingkungan hidup sedunia tahun 2024 yang diinisiasi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi bersama Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dan 37 kolaborator.

Kegiatan yang dilakukan aksi bersama bersih pantai dan olah sampah. Dalam waktu 1 jam, 287 peserta berhasil mengumpulkan 438,87 Kg sampah dari panjang pantai sekitar 200 meter. Sampah plastik paling mendominasi dengan persentase 46,14%, selanjutnya kaca 14,68%, kayu 9,69%, kain 9,54%, karet 7,90%, styrofoam 4,95% dan selebihnya jenis kertas, logam, B3, serta organik.

Peserta membersihkan sampah yang berserakan di pantai

Direktur Eksekutif YKL Indonesia, Nirwan Dessibali menyampaikan kegiatan aksi bersih pantai rutin dilaksanakan. Tujuannya sebagai aksi nyata serta ajang kampanye bagi masyarakat luas khususnya anak muda.

Mengingat pesisir dan laut Kota Makassar saat ini darurat sampah khususnya plastik. Dari pendataan rutin YKL Indonesia dalam 4 tahun terakhir terkait jenis sampah di pesisir dan laut, sampah plastik paling dominan.

“Kondisi pesisir dan laut Kota Makassar yang masih banyak ditemukan plastik perlu aksi nyata khususnya dari anak muda dimana milenial dan generasi Z saat ini telah mendominasi dari jumlah penduduk di Indonesia. Hal ini pula yang mendasari kami di YKL Indonesia konsisten melakukan aksi bersama,” ujar Nirwan.

Sambutan Direktur Eksekutif  YKL Indonesia, Nirwan Dessibali

Diketahui, YKL Indonesia secara rutin melaksanakan aksi bersama bersih pantai bekerjasama dengan berbagai pihak sejak tahun 2020 dengan fokus pelibatan anak muda.

“Kali ini, konsep kegiatan yang kami tekankan bukan hanya membersihkan sampah yang ada di pantai. Tapi turut dilakukan pemilahan, penimbangan hingga sampah yang dikumpulkan diolah menjadi barang yang bernilai,” ujar Nirwan.

Dari total sampah yang terkumpul 438,87 Kg, sebanyak 73,05% atau 320,59 Kg sampah diolah kembali. Sampah plastik dijadikan ecobrick dan sebagian diserahkan ke bank sampah termasuk jenis logam dan botol kaca.

“Harapan kami, sampah yang terkumpul tidak berakhir di TPA. Kedepan, kami terus mengupayakan hasil aksi bersih bisa 100% diolah kembali,” jelas Nirwan.

Proses pemilahan dan penimbangan sampah

Dalam kegiatan ini pula dilakukan demo cara praktis dan mudah dalam melakukan olahan sampah plastik menjadi barang bernilai guna. Ketua komunitas Zero Waste Makassar, Ainun Qalbi Muthmainnah memaparkan dan mempraktekkan cara melakukan ecobrick.

Sementara Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, menyambut baik kegiatan ini. Kata dia, ini sejalan dengan program pemerintah pusat maupun daerah yakni ekonomi biru, dimana persoalan sampah menjadi fokus utamanya.

Sampah plastik kata Muhammad Ilyas sangat berbahaya jika masuk ke laut. Selain dapat membahayakan kesehatan manusia, juga merusak biota laut. Akibat banyaknya sampah plastik, dampak langsung yang dirasakan nelayan saat ini adalah semakin jauh ke tengah laut untuk mencari ikan.

“Termasuk biota laut yang habitatnya rusak karena sampah plastik, semakin sulit berkembang, sehingga tangkapan nelayan juga semakin berkurang,” katanya.

Sambutan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Muhammad Ilyas

PLH GM PLN UIP Sulawesi, Budi Ari Wibowo dalam sambutannya menyampaikan aksi bersih dan olah sampah ini dilaksanakan sebagai aksi nyata untuk memerangi permasalahan sampah di lingkungan khususnya wilayah pesisir dan laut.

“Aksi bersih pantai dari sampah plastik ini sebagai aksi  yang harus dibumikan bukan hanya pada saat memperingati hari lingkungan hidup,” ujar Budi Ari Wibowo.

Diakui, aksi ini memang jangka pendek, namun jangka panjang adalah bagaimana mengubah mindset masyarakat untuk peduli lingkungan. Dengan tidak membuang sampah sembarangan, khususnya sampah plastik yang sulit terurai.

Sambutan PLH GM PLN UIP Sulawesi, Budi Ari Wibowo saat membuka kegiatan

Rahima Rahman, dari komunitas Rangkul.ID mengaku senang dapat terlibat langsung dalam kegiatan. “Kegiatan seperti ini meningkatkan kepedulian kami terhadap kelestarian laut, karena selain aksi nyata ada pula pengetahuan serta relasi dari berbagai pihak karena sangat banyak kolaborator,” ujar Rahima.

Kolaborator kegiatan ini dari Pemerintah Provinsi Sulsel, Kota Makassar dan BPSPL Makassar. Komunitas/lembaga dari Kemajik Unhas, MSDC Unhas, HMI ITK Unhas, Permakris Unhas, KSR PMI Unhas, Duta Lingkungan Hidup Makassar, Hantu Kanal, EH Makassar, Marine Buddies Makassar, Zero Waste Makassar, Senat Mahasiswa ITBM Balik Diwa, Rangkul.ID, Pepelingasih Sulsel, Lemsa, Nypah Indonesia, Yayasan Hutan Biru, Mall Sampah, IKAL, Lema FPIK UMI, Hive Indonesia, Kontur Geografi UNM, KUN Makassar, ISLA Unhas, Klik Hijau, Mongabay Indonesia, Entalpi UNM dan SIEJ Simpul Sulsel.

Foto bersama seluruh peserta

Berita Terkait

Scroll to top