Jejak Harapan di Pulau Lanjukang: Merayakan Hari Penyu dengan Aksi Nyata

Oleh: Dwi Andika
Field Facilitator YKL Indonesia

Setiap tahun, tepat pada tanggal 16 Juni, dunia memperingati Hari Penyu Laut Sedunia (World Sea Turtle Day). Momentum ini menjadi pengingat bahwa salah satu penghuni tertua lautan tengah menghadapi berbagai ancaman yang mengancam kelangsungan hidupnya.

Penyu, yang dalam bahasa Makassar dikenal sebagai pannyua dan dalam bahasa Bugis disebut pannu, telah mengarungi samudra jauh sebelum manusia mengenal peradaban modern. Selama jutaan tahun, satwa ini berhasil bertahan menghadapi perubahan alam dan dinamika bumi. Namun ironisnya, di era modern saat ini, keberadaan penyu justru semakin rentan akibat berbagai aktivitas manusia, mulai dari pengambilan telur, perburuan, kerusakan habitat pesisir, hingga pencemaran laut oleh sampah plastik.

Di tengah berbagai ancaman tersebut, upaya menjaga kelestarian penyu menjadi tanggung jawab bersama. Sebab melindungi penyu bukan hanya menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak masyarakat pesisir.

Di Indonesia, yang menjadi rumah bagi enam dari tujuh spesies penyu dunia, upaya perlindungan penyu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi konservasi. Ia adalah tanggung jawab kita bersama. Sebab ketika penyu hilang dari lautan, yang hilang bukan hanya satu spesies, melainkan bagian penting dari keseimbangan ekosistem laut.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, sebuah pulau kecil di utara Kota Makassar menyimpan cerita tentang harapan. Pulau itu adalah Pulau Lanjukang, salah satu pulau terluar di gugusan Kepulauan Spermonde yang hingga hari ini masih menjadi tempat bagi penyu untuk kembali bertelur.

Ketika Penyu Masih Kembali ke Pantai

Bagi masyarakat Pulau Lanjukang, kemunculan penyu bukanlah peristiwa yang asing. Sejak lama, penyu kerap terlihat naik ke pantai pada malam hari untuk menggali sarang dan meletakkan telur-telurnya di balik hamparan pasir putih pulau tersebut.

Sebagai bagian dari penelitian yang saya lakukan pada tahun 2023 mengenai strategi pelestarian penyu di Pulau Lanjukang, ditemukan bahwa pulau ini menjadi habitat peneluran bagi dua spesies penyu yang dilindungi, yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Kedua spesies ini memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem laut, mulai dari padang lamun hingga terumbu karang.

Karakteristik pantai Pulau Lanjukang masih mendukung aktivitas peneluran penyu. Pantai yang landai, substrat pasir yang sesuai, suhu pasir yang mendukung proses inkubasi, serta vegetasi pantai yang masih tersedia menjadi faktor penting yang membuat penyu terus kembali ke pulau ini untuk berkembang biak. Namun keberadaan habitat yang sesuai saja tidak cukup. Penyu membutuhkan satu hal yang jauh lebih penting, rasa aman.

Penyu Hijau di Pulau Lanjukang. Foto : Alief Fachrul Raazy | YKL Indonesia

Dari Ancaman Menjadi Harapan

Beberapa tahun lalu, telur penyu di Pulau Lanjukang masih sering diambil untuk dikonsumsi. Sebagian masyarakat meyakini berbagai mitos mengenai manfaat telur penyu sehingga aktivitas pengambilan telur menjadi hal yang lumrah dilakukan.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Lanjukang, tetapi juga di banyak wilayah pesisir Indonesia. Padahal seluruh spesies penyu yang ada di Indonesia merupakan satwa yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Pengambilan telur, perdagangan bagian tubuh penyu, maupun perburuan penyu dapat mengancam keberlanjutan populasinya di alam.

Perubahan mulai terjadi ketika berbagai pihak, termasuk masyarakat lokal, pemerintah, akademisi, dan lembaga konservasi, mulai terlibat dalam upaya penyadartahuan mengenai pentingnya menjaga penyu. Salah satu kisah yang banyak dikenal adalah inisiatif masyarakat Pulau Lanjukang dalam menjaga sarang-sarang penyu dan menyelamatkan tukik yang menetas. Kisah tersebut pernah diangkat oleh Mongabay Indonesia sebagai gambaran munculnya harapan baru bagi konservasi penyu di Pulau Lanjukang.

Perubahan cara pandang masyarakat menjadi salah satu modal terbesar dalam konservasi. Sebab perlindungan penyu yang paling efektif bukan hanya lahir dari aturan, tetapi dari kesadaran masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat penyu itu sendiri.

Data yang Berbicara

Harapan itu tidak hanya terlihat dari cerita, tetapi juga dari data yang berhasil dikumpulkan oleh masyarakat bersama YKL Indonesia melalui kegiatan pemantauan sarang dan penetasan penyu.

Selama periode 2022 hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 90 sarang penyu ditemukan di Pulau Lanjukang dengan total 7.685 tukik yang berhasil didata.

Tahun Jumlah Sarang Jumlah Tukik
2022 15 1.456
2023 26 2.487
2024 22 2.027
2025 18 991
2026* 9 724
Total 90 7.685

*Data tahun 2026 hingga Maret.

Data tersebut menunjukkan bahwa Pulau Lanjukang menjadi lokasi peneluran yang aktif. Tahun 2023 menjadi periode dengan jumlah sarang tertinggi yang berhasil dicatat, sementara tahun-tahun berikutnya menunjukkan bahwa aktivitas peneluran masih terus berlangsung.

Meskipun demikian, angka-angka tersebut tidak boleh membuat kita lengah. Dari ratusan telur yang menetas menjadi tukik, hanya sebagian kecil yang mampu bertahan hingga dewasa. Sejak keluar dari sarang, tukik harus menghadapi berbagai ancaman alami seperti predator, ombak, dan perubahan lingkungan. Di laut, mereka masih harus berhadapan dengan sampah plastik, alat tangkap perikanan, hingga degradasi habitat.

Artinya, setiap sarang yang berhasil dilindungi merupakan investasi besar bagi masa depan populasi penyu.

Mengapa Penyu Penting bagi Laut?

Banyak orang mengenal penyu sebagai satwa yang unik dan menarik. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa penyu memiliki peran ekologis yang sangat penting.

Penyu hijau, misalnya, membantu menjaga produktivitas padang lamun dengan memakan lamun-lamun tua sehingga merangsang pertumbuhan tunas baru. Sementara penyu sisik berperan menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang melalui interaksinya dengan berbagai organisme yang hidup di kawasan tersebut.

Karena itu, keberadaan penyu sering dianggap sebagai indikator kesehatan ekosistem laut. Ketika populasi penyu menurun, dampaknya dapat merambat pada berbagai komponen ekosistem lainnya.

Melindungi penyu pada akhirnya berarti melindungi laut yang menjadi sumber kehidupan jutaan masyarakat pesisir.

Konservasi Dimulai dari Kita

Melestarikan penyu tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Setiap orang dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Kita dapat memulainya dengan tidak mengonsumsi telur penyu, tidak membeli suvenir yang berasal dari bagian tubuh penyu, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mendukung kegiatan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat dan organisasi lingkungan.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, menjaga kebersihan pantai serta tidak mengganggu lokasi peneluran penyu juga merupakan bentuk kontribusi nyata yang sangat berarti.

Sementara bagi generasi muda, menyebarkan informasi yang benar mengenai pentingnya konservasi penyu dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran yang lebih luas.

Konservasi sesungguhnya bukan hanya tentang menyelamatkan satwa. Konservasi adalah tentang menjaga hubungan antara manusia dan alam agar tetap seimbang.

Dwi Andika menemani peserta jambore nelayan tahun 2025 dalam pembelajaran konservasi penyu di Pulau Lanjukang

Menjaga Jejak Harapan

Pada malam-malam tertentu di Pulau Lanjukang, ketika suasana mulai sunyi dan ombak perlahan menyentuh bibir pantai, seekor induk penyu masih datang dari lautan. Ia merayap perlahan di atas pasir, menggali sarang, lalu menitipkan generasi berikutnya sebelum kembali menghilang ke dalam gelapnya laut.

Jejak yang ditinggalkan di pasir mungkin akan hilang diterpa angin dan ombak. Namun makna di balik jejak itu tidak boleh ikut menghilang.

Hari Penyu Laut Sedunia adalah momentum untuk mengingat bahwa setiap sarang yang terlindungi, setiap tukik yang berhasil mencapai laut, dan setiap masyarakat yang memilih menjaga dibanding mengeksploitasi adalah bagian dari harapan tersebut.

Pulau Lanjukang telah menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Bahwa konservasi dapat tumbuh dari kesadaran masyarakat, diperkuat oleh ilmu pengetahuan, dan dijaga melalui kolaborasi berbagai pihak.

Mari menjadikan peringatan Hari Penyu Laut Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat untuk terus bertindak. Karena masa depan penyu tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan di laut, tetapi juga oleh keputusan yang kita ambil hari ini.

Ketika penyu masih kembali ke Lanjukang, harapan itu masih ada. Dan harapan itu adalah tanggung jawab kita bersama.

 

Referensi

  • Andika, D. (2023). Strategi Pelestarian Penyu di Pulau Lanjukang. Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.
  • Mongabay Indonesia. (2022). Inisiatif Anas dan Harapan Baru Konservasi Penyu di Pulau Lanjukang.
  • Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Rencana Aksi Nasional Konservasi Penyu Indonesia.

Berita Terkait

Scroll to top